Thursday, 1 September 2016

Bunga Berdarah, Mencari Hakikat Cinta dalam Kemelut Konflik

Sejak konflik melanda Tanah Rencong, cukup banyak kasus kekerasan yang terjadi, mulai dari penyiksaan fisik, perkosaan, penjarahan hingga pembunuhan. Batin siapa yang tak menjerit saat melihat martabat manusia dilecehkan begitu saja tanpa perasaan cinta. Tapi di mana-mana drama konflik memang sudah diskenariokan begitu, tak seru jika pelakon konfontrasi saja yang bermain,  orang-orang sipil termasuk perempuan tak berdaya yang jelas-jelas tak ada sangkut paut dengan masalah pun harus ikut dilibatkan, walau hanya sekedar pemuas ambisi semu.
Hal itulah  yang membuat  Dhira  tergerak untuk bergabung dengan  sebuah organisasi yang    memperjuangan nasib orang-orang tertindas. Namun, kehadiran tokoh Teungku Don yang  membuat Dhira  memendam hasrat cinta adalah warna lain yang mewakili sisi kepribadian dalam cerita ini.
Perasaan senasib  telah membuat Teungku Don lebih banyak berinteraksi dengan Meulu— perempuan korban pelecehan seksual oleh orang-orang bersenjata. Gadis ini lebih beruntung dibandingkan Dhira karena memiliki alasan untuk berhubungan dengan sang Teungku. Sehingga melahirkan konflik pribadi  berupa ungkapan-ungkapan jengkel dan cemburu yang membuncah  terpendam dalam lubuk hati Dhira.
Sisi lain yang dipaparkan dalam cerita ini adalah tentang kehidupan sosial  yang melahirkan perbedaan karakter yang begitu tajam. Walaupun mereka  berjuang dengan misi yang sama, tapi  sulit menyerasikan watak kepribadian mereka  karena  sudah terlanjur dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, sehingga mereka sama-sama sulit  memahami perasaan lawannya.  Teungku Don dan Meulu adalah orang yang dibesarkan dalam kesederhanan lingkungan kampung dan dayah  yang  membuat mereka selalu berpegang teguh pada norma. Sehingga pembawaan mereka cenderung apa adanya. Sedangkan Dhira, gadis peranakan  Aceh dengan jawa,  dibesarkan dalam keluarga ekonomis  yang cenderung tak ingin ikut campur dalam permasalahan yang melanda Aceh. Meski watak Dhira berbeda dari anggota keluarganya, lemah lembut dan perduli kepada sesama tapi tak bisa membuat dia bertahan dari arus modernisasi yang menyeretnya.
Sampai keadaan tragis datang memberikan kesempatan yang luas bagi Teungku Don dan Dhira untuk berkomunikasi. Maka di sinilah puncak cerita yang paling seru ketika benturan kultural terjadi. Dhira ingin melepaskan batasan norma yang mengikat mereka. Ia juga menginginkan sikap Teungku Don yang monoton berubah menjadi lelaki romantis yang bisa mengucapkan cinta lalu mereka akan bermesraan seperti pasangan lainnya.
Tapi garis etika yang membentuk kepribadian Teungku Don bertahun-tahun membuatnya tak menginginkan hal semacam itu. Ia tak mengenal getaran cinta. Yang membuat kita di bawa pada keharuan yang sangat adalah   saat keadaan memaksa mereka kembali berpisah, Dhira  yang  menderita  tak sempat menumpahkan semua isi hatinya yang lama terpendam.
Itulah sedikit gambaran cerita dalam novel “Percikan Darah di Bunga” karangan Arafat Nur. Seperti kebanyakan novel aceh lainnya yang mengisahkan liku-liku cinta dengan latar kelabu, bencana, desiran peluru, darah dan airmata. Tapi Arafat menyuguhkannya dengan nuansa yang berbeda dari novel lainnya. Ia begitu cerdas memadukan unsur cinta, religi, dan kemanusiaan di tengah konflik yang mendera secara menarik dan terarah. Ia menggambarkan tentang cinta yang terpendam dalam gemuruh pergolakan hingga harga diri manusia yang di cabik-cabik. Pada awalnya emosi pembaca akan terenyuh, tapi gelora itu akan kembali luluh bergantikan kedamaian saat pembaca di bawa kembali pada renungan spiritual yang menggugah jiwa.
Di lihat dari beberapa segi cerita ini sudah cukup menarik. Ide cerita yang tidak terlalu mencolok dan terkesan apa adanya, juga bahasa yang ditulis tidak berbelit-belit sehingga pembaca mudah mencerna isi cerita. Hal yang menarik lainnya adalah tentang kronologis cerita yang penuh misteri, mendebarkan saat konflik muncul secara tiba-tiba, plus dengan dialog tokoh yang  tidak monoton sehingga membuat pembaca seolah-olah hanyut dalam suasana tragis dan mencekam saat masa diberlakukannya darurat militer di Aceh.
Ada sedikit ketidaknyamanan di sini, yakni pada penggambaran sudut  pandang yang tak teratur.  Misalnya, penulis  memaparkan lebih dulu kronologis bebasnya  tokoh Tengku Don dari penyiksaan,  padahal biarkan saja   pembaca terbawa oleh perasaan  Dhira yang mengkawatirkan keselamatan lelaki idamannya.
Percikan Darah di Bunga, perpaduan nuansa cinta tanpa romantisme dengan warna konflik Aceh. Sebuah kisah penuh fantastis, betapa tidak, di satu pihak menceritakan tentang kehidupan yang penuh penderitaan, bayang-bayang teror, penyiksaan dan kebutuhan ekonomis yang menghimpit membuat orang lebih mementingkan nasibnya daripada masalah cinta. Sementara di pihak lain, kehidupan tokoh lain justru sedang di bakar gelora asmara yang dahsyat.
Judul novel tersebut diambil dari akhir kisah yang tragis, yang tetap menjadi misteri dalam setiap rangkaian cerita.   Padahal  penulis  telah memberikan gambaran berupa dunia kedamaian para gadis dalam nuansa bunga, tapi kita  tetap akan kesulitan  menemukan hubungan antara kronologis cerita dengan  topik yang diangkat di awal cerita.
Tak ada aroma politik dalam novel ini. Kedua pihak yang bertikai   sama-sama berkesan negatif. Mereka  digambarkan seperti penjahat, orang yang haus kekuasaan, otak pemerasan dan penganiayaan, pelaku teror yang telah menciptakan ketidaknyamanan dalam kehidupan masyarakat.
Arafat Nur, sang penulis dilahirkan di Lubuk Pakam, Medan . Usia  enam tahun ia pindah menetap di Aceh hingga ia merasakan dampak kemelut yang membakar Tanah Rencong yang membuat penulis akrab dengan suasana dan orang-orang yang terlibat dalam pergolakan. Oleh sebab itu, ia begitu lihai merancang ide dari realita yang terjadi kemudian mengolahnya menjadi fiktif cerita, tak heran bila hampir seluruh isi cerita ini menjiwai sisi kehidupan penulis.
Novel  ini adalah peraih juara III  Sayembara Novel  yang diselenggarakan FLP tahun 2005. Sekilas buku ini layak di miliki dan di baca oleh siapa saja khususnya kalangan remaja karena umumnya karya asuhan FLP berusaha membangkitkan minat baca dikalangan remaja. Novel ini juga layak anda koleksi karena sarat hikmah di dalamnya, diantaranya adalah perjuangan persamaan hak kemanusiaan dan keperdulian untuk  melindungi martabat perempuan yang tak hanya dikesampingkan di tengah perseturuan politik tapi juga di libas oleh roda ankara murka untuk mencapai kepentingan sepihak.
Secara tidak langsung, novel ini juga telah mengajak kita untuk merenung tentang pencarian hakikat cinta. Betapa rumit menemukan hakikat cinta yang sebenarnya di tengah zaman yang serba sulit. Perbedaan norma kehidupan membuat orang menafsirkan cinta menurut caranya sendiri.  Pelaku konfontrasi sudah tentu cinta pada pengabdiannya walaupun harus menindas hak-hak kemanusiaan tanpa perasaan cinta. Sedangkan nafsu keduniawian hanyalah cinta semu yang membuat orang  terus tersiksa karena selalu dipermainkan oleh perasaannya. Lalu dimana letak cinta yang hakiki itu?
Banda Aceh, 7 Agustus 2008

SUARA HATI SANG JATI–Irwandi


By Erwandi
Angin berhembus dari lereng bukit
Suaranya seakan mengabarkan kesedihan
Hingga membuat gemetar badanku
Sampai-sampai merontokkan rambutkku
Aku berdiri tepat diatas relung semak
Yang menyelimuti tubuhku
Waktu itu matahari mulai menggarang
Detak  langkahpun mulai mendekat
Jerit suara serentak bergema
Ketika alat itu berdendang dan menghampiri saudara-saudaraku
Aku hanya bisa menatap saudara-saudaraku mulai rebah
Laksana jiwa menghampiri malam
Aku terpaku sejenak dalam kaku
Apakah nanti giliranku
Apakah hari ini, hari terakhir melihat indah dunia
Aku coba teriak dalam sepi hatiku
Untuk bisa bertahan hidup
Tapi semua tak mendengarku
Suara hatiku bergumam
Aku hanya bisa menunggu giliranku

KISAH CINTA DAN KEROMANTISAN SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB DENGAN FATIMAH AZ-ZAHRA

Inilah kisah cinta suci antara Ali bin Abi thalib dan Fatimah Az-Zahra. Cinta sahabat Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra memang luar biasa indah, cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun expresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Konon karena saking teramat rahasianya setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya. Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Ummar melamar fatimah. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya.
Namun kesabaran beliau berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak oleh Rasulullah. Hingga akhirnya Ali memberanikan diri, dan ternyata lamarannya yang mesti hanya bermodal baju besi diterima oleh Rasulullah.
Di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali,

"Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya",

Ali pun bertanya mengapa ia tak mahu menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.
Sambil tersenyum Fatimah Az-Zahra menjawab, "Pemuda itu adalah dirimu".

Decetitakan, Ali Bin Abi talib waktu itu ingin melamar Fatimah, putri nabi Muhammad SAW. Tapi karena dia tidak mempunyai uang untuk membeli mahar, maka ia membatalkan niat itu. Ali segera berhijrah untuk bekerja dan mengumpulkan uang. Pada saat Ali sedang bekerja keras, ia mendengar khabar kalau Abu Bakar ternyata melamar Fatimah. Wah, bagaimana agaknya perasaan Ali, wanita yang sudah dia inginkan dilamar oleh seseorang yang ilmu agama nya lebih hebat dari dia. Tetapii Ali tetap bekerja dengan giat.

Lalu setelah beberapa lama Ali mendengar kabar kalau lamaran Abu Bakar kepada Fatimah ditolak. Ali terpegun dan sedikit bergembira tentunya, kata Ali“waah, saya masih punya kesempatan ”. Setelah mendengar khabar itu, Ali bekerja lebih giat lagi agar cepat mengumpulkan uang dan segera melamar Fatimah. Tapi tak lama setelah itu, Ali mendengar khabar kalau Umar Bin Khatab melamar Fatimah. Wah, sekali lagi Ali mendahulukan orang lain, bagaimana perasaanya? Tapi tak berapa lama Ali mendengar kalau lamaran Umar bin Khatab ditolak. betapa senangnya Ali, mendengar kabar itu.
Tapi tak lama kesenangan itu kembali pudar Karena terdengar khabar lagi, ternyata Usman bin Affan melamar Fatimah. ini sudah yang ketiga kalinya, kata Ali 

“mungkin kali ini diterima. Kalaulah Usman tidak melamar Fatimah secepat ini, InsyaAllah tidak lama lagi saya akan melamar Fatimah, tapi , apa hendak dikata , adakah mahu mengalah?".

Dan sekali lagi, tidak berapa lama dari itu, khabar ditolaknya lamaran Usman bin Affan pun terdengar lagi, betapa bahagianya Ali. Semangat Ali untuk melamar Fatimah pun berkobar lagi, dan semangat itu didukung oleh sahabat-sahabat Ali. Kata sahabat nya 

“pergilah Ali, lamar Fatimah sekarang, tunggu apa lagi?? kamu kan sudah bekerja keras selama ini, kamu juga sudah mengumpulkan harta dan cukup untuk membeli mahar. tunggu apa lagi??? Tunggu yang ke4 kalinya??? baik cepat!!!”

Dengan segera Ali memeberanikan diri untuk menghadap ke Nabi Muhammad S.W.T dengan tujuan melamar Fatimah, dan sahabat-sahabat tau???

Tercantum dalam banyak riwayat bahwa Ummu Salamah di kemudian hari mengisahkan pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Sayyidina Ali. kepada Rasulullah itu: “Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu sampai kakiku terantuk-antuk. Setelah pintu kubuka ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempat semula. Ia masuk kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasulullah Ia dipersilakan duduk di depan beliau. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala seolah-olah mempunyai maksud tetapi malu hendak mengatakannya.

Rasulullah mendahului berkata: "Hai Ali nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan. Katakanlah apa yang ada dalam hatimu. Apa saja yang engkau perlukan akan kau peroleh dariku!" Mendengar kata-kata Rasulullah yang demikian itu lahirlah keberanian Ali bin Abi Thalib untuk berkata: “Maaf ya Rasulullah. Engkau tentu ingat bahwa engkau telah menerima aku dari ayahku Abu Thalib dan ibuku Fatimah binti Asad di kala aku masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa.

Sesungguhnya Allah telah memberi hidayat kepadaku melalui engkau juga. Dan engkau ya Rasulullah adalah tempat aku bernaung dan engkau jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan akhirat. Setelah Allah membesarkan diriku dan sekarang menjadi dewasa aku ingin berumah tangga; hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri anda Fathimah. Ya Rasulullah apakah anda berkenan menyetujui dan menikahkan diriku dengan Fathimah?”

Rasulullah menjawab "Ahlan wa sahlan".

Ummu Salamah melanjutkan kisahnya: “Saat itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib: ''Hai Ali apakah engkau mempunyai suatu untuk mahar''
''Demi Allah'' jawab Ali bin Abi Thalib dengan terus terang ''Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah pedang, baju perisai dan seekor unta.''

''Tentang pedangmu itu'' kata Rasulullah menanggapi jawaban Ali bin Abi Thalib “engkau tetap memerlukannya untuk perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu buat keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh kerana itu aku hendak menikahkan engkau hanya dengan mahar sebuah baju perisai saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai Ali engkau wajib bergembira sebab Allah Azza wa­jalla sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi! ”Demikian riwayat yang diceritakan Ummu Salamah.

Kemudian Ali pulang dan membawa baju perisainya, lalu Rasulullah menyuruh menjual kepada Usman bi Affan, kemudian uangnya diserahkan kepada Rasulullah.

Setelah segala-galanya siap dengan perasaan puas dan hati gembira dengan disaksikan oleh para sahabat Rasulullah, Kemudian Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fathimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan mahar 400 dirham, Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu.”

“Ya Rasulullah aku ridho” jawab Ali bin Abi Thalib.
 Kemudian Rasulullah mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Yang pertama adalah pengorbanan, Yang kedua adalah keberanian.

 ’Ali adalah lelaki sejati.,
 “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah mereka menikah Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda” ‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu” Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu” Ali pun tersenyum.

"Jika kamu memelihara dirimu daripada sesuatu perkara yang haram karena Allah diatas wanita kesukaanmu kerana banyak bersabar, insya Allah hanya dengan izin Allah akan menghalalkannya kepadamu atas kesabaranmu karena Allah"

cara bunuh sukarno

Bung Karno Buka Rahasia Cara Membunuh Dirinya

bung karno pidato2Bagi sebagian besar rakyat Indonesia, pasti –setidaknya– pernah mendengar legenda, atau dongeng leluhur. Dalam legenda-legenda atau dongeng-dongeng masa lalu, acap terselip tentang kedigdayaan seorang ksatria, seorang raja, atau seorang tokoh. Dalam banyak versi pula, masing-masing tokoh yang memiliki kesaktian tadi, sejatinya memiliki rahasia kelemahan. Masyarakat Jawa menyebut wadi.
Bahkan dalam cerita yang tentu saja fiktif, di tokoh cerita pewayangan misalnya, seorang ksatria sakti tidak bisa mati kalau tidak diserang pada titik rahasia kelemahannya, wadi-nya. Kalaupun dia mati dalam sebuah pertempuran, tetapi bukan karena diserang di bagian yang mematikan, maka dia akan hidup kembali. Kisah lain, yang acap dilakonkan dalam seni ketoprak Jawa, seorang raja kejam yang sakti, memiliki kelemahan kalau menyeberangi sungai. Maka lawannya akan memancing dia untuk menyeberangi sungai, baru bisa membunuhnya.
Banyak kisah-kisah lain yang bahkan masih hidup sampai sekarang. Pahlawan-pahlawan ternama diyakini sebagian masyarakat sebagai memiliki kesaktian. Dia tidak akan mati kalau tidak diserang diwadi, atau di rahasia kelemahannya. Nama-nama besar seperti Gajah Mada, para Wali, Siliwangi, Pangeran Diponegoro, Pattimura, Bung Karno hingga Jenderal Sudirman pun dianggap memiliki kesaktian. Bukan hanya itu, hingga saat ini pun, di sejumlah daerah, masyarakat setempat memiliki legenda-legenda tentang sosok sakti di daerahnya.
Kesaktian datang karena “laku” atau “tapa brata” atau “semedi”. Kesaktian juga bisa karena “pegangan” atau senjata yang umumnya berupa keris, tombak, dan lain sebagainya. Menurut legenda juga, kesaktian bisa didapat dari hasil tekun berguru.
Nah, benarkah Bung Karno juga merupakan manusia “sakti”? Dengan sejarah sedikitnya tujuh kali luput, lolos, dan terhindar dari kematian akibat ancaman fisik secara langsung, menjadi hal yang jamak kalau kemudian sebagian rakyat Indonesia menganggap Bung Karno adalah manusia dengan tingkat kesaktian tinggi.
Dalam sebuah perjalanan di Makassar, Bung Karno diserbu gerombolan separatis. Di perguruan Cikini, dia dilempar granat. Di Cisalak dia dicegat dan ditembaki. Di Istana, dia diserang menggunakan pesawat tempur juga oleh durjana separatis. Bahkan ketika dia tengah sholat Idul Adha, seseorang yang ditengarai dari anasir DI/TII menumpahkan serentetan tembakan dari jarak enam saf (barisan sholat) saja.
Dari kesemuanya, Bung Karno tetap selamat, tetap sehat, dan tidak gentar. Dia terus saja menjalankan tugas kepresidenan dengan segala konsekuensinya. Dalam salah satu pernyataannya di biografi yang ditulis Cindy Adams, berkomentar tentang usaha-usaha pembunuhan yang dilakukan terhadapnya, Bung Karno sendiri tidak mengaku memiliki kesaktian tertentu. Ia menukas normatif, yang kurang lebih, “Mati-hidup adalah kehendak Tuhan. Manusia mencoba membunuh, kalau Tuhan belum berkehendak saya mati, maka saya belum akan mati.”
Dengan kepemimpinannya yang tegas, berani “menentang” mengutuk politik Amerika Serikat, dengan keberaniannya keluar dari PBB dan membentuk Conefo, dengan penggalangan jaringan yang begitu kokoh dengan negara-negara besar di Asia maupun Afrika, Bung Karno tentu saja sangat ditakuti Amerika Serikat sebagai motor bangkitnya bangsa-bangsa di dunia untuk menumpas praktik-praktik imperialisme.
Seperti pernah diutarakan seorang pengamat, karena membunuh Sukarno dari luar terbukti telah gagal, maka gerakan intelijen menusuk dari dalam pun disusun, hingga lahirnya peristiwa Gestok yang benar-benar berujung pada jatuhnya Bung Karno sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara Republik Indonesia. Tidak berhenti sampai di sini, upaya membunuh secara fisik pun dilakukan dari dalam.
Celakanya, Bung Karno, entah sadar atau tidak, dalam penuturan kepada Cindy Adams pernah membuat pernyataan, “Untuk membunuh saya adalah mudah, jauhkan saja saya dari rakyat, saya akan mati perlahan-lahan.”
Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto dan atas dukungan Amerika Serikat (dan kroninya), melakukan upaya pembunuhan (bisa dibilang langsung, bisa pula tidak langsung) terhadap Bung Karno dengan cara yang telah disebutkan oleh Bung Karno sendiri. Hingga Mei 1967, Bung Karno seperti tahanan rumah. Meski masih berstatus Presiden, tetapi ia terpenjara di Istana. Tidak beluar tanpa kawalan antek-antek Soeharto.
Situasi politik berbalik menempatkan Bung Karno pada stigma yang terburuk. Gerakan demonstasi mahasiswa yang didukung militer, pemberitaan media massa yang dikontrol Soeharto, membuat Bung Karno makin terpuruk. Usai ia dilengserkan oleh Sidang Istimewa MPRS, kemudian diasingkan di Bogor, kemudian disekap di Wisma Yaso, Jl Gatot Subroto. Ia benar-benar menjadi pesakitan. Yang paling menyakitkan adalah karena dia benar-benar dijauhkan dari rakyat. Rakyat yang menjadi “nyawa”-nya selama ini.
Dengan cara itu pula, persis seperti yang ia utarakan dalam bukunya, Bung Karno wafat. (roso daras)

Kenapa Bisnis Pengusaha Tionghoa Selalu Sukses? Ini Rahasianya

Seperti kita ketahui bersama bahwa orang Tionghoa yang berada di Indonesia sebagian besar adalah seorang pengusaha. Dan, hebatnya hampir keseluruhan mereka adalah pengusaha yang sukses. Seakan-akan apapun bisnis yang pengusaha Tionghoa kerjakan bisa berjalan dengan baik dan membawanya menuju kesuksesan.

Ada banyak nilai di sini yang bisa kita pelajari dalam sistem atau tata kelola bisnis yang dijalankan oleh pengusaha Tionghoa. Apa saja sebenarnya yang menjadi kunci sukses dalam menjalankan bisnis dari orang Tionghoa tersebut, perhatikan rahasianya di bawah ini.

1. Pembelajaran Bisnis Sejak Dini

Sudah menjadi hal yang lumrah bagi keluarga Tionghoa ketika menjalankan bisnis keluarga selalu diikutsertakan sejak dini. Bahkan jangan kaget ketika misalnya mereka membuka usaha toko, maka biasanya anak yang menjadi pelayan dan ibu menjaga kasir.
Nah, pembelajaran bisnis seperti ini ternyata sangat efektif dan efisien dalam kultur pengusaha Tionghoa. Sangat bermanfaat bagi anak, nantinya ketika mereka dewasa, mereka sudah sangat memahami seluk beluk bisnis yang dikelola ayahnya. Sehingga ketika dilepaskan pun, mereka tidak kaget lagi.

2. Manajemen Keuangan yang Baik

Ini adalah salah satu kunci usaha yang mungkin jarang dilakukan oleh pebisnis kita. Pengusaha Tionghoa, seberapapun kecil bisnis yang mereka kelola, mereka selalu membuat pembukuan serapi mungkin dan sedetail mungkin.

Wednesday, 31 August 2016

racun di kemaluan putro neng tewaskan 99 pria


Bicara wanita, Aceh tak hanya memiliki Cut Nyak Dien ataupun Cut Mutia sebagai wanita perkasa. Pun tak hanya Syeikh Keumala Hayati yang menurut sejarah mampu melawan dan menumbangkan 100 prajurit Portugis dalam medan pertempuran pada tahun 1600-an. Berdasarkan kajian sejarah, Putroe Neng juga disebut-sebut sebagai wanita perkasa. Disebutkan, ia tak hanya menumbangkan para lelaki di medan perang, Putroe Neng juga telah menumbangkan 99 lelaki perkasa di ranjang pengantinnya.

Dalam novelnya yang berjudul “Tatkala Malam Pertama Menjadi Malam Terakhir Bagi 99 Lelaki”, Ayi Jufridar mengungkap kisah percintaan Putroe Neng dengan 100 lelaki yang pernah menjadi suaminya.
Nian Nio Lian Khie begitulah nama aslinya sebelum memeluk Islam dan menikah dengan Sultan Meurah Johan. Putroe Neng adalah seorang komandan perang wanita Negeri Tiongkok, berpangkat Jenderal dari China Buddha.
Meurah Johan sendiri adalah seorang pangeran yang telah mengalahkan pasukan yang dipimpin oleh Putroe Neng di medan tempur. Meskipun pada akhirnya bertekuk lutut di medan tempur, namun Putroe Neng nyatanya tidak pernah menyerah di medan ranjang.
Meurah Johan bersimbah darah, terbujur kaku dengan sekujur tubuh membiru akibat senjata mematikan yang dimiliki oleh Putroe Neng.  Tak hanya sebagai suami pertama, Meurah Johan juga menjadi laki-laki pertama yang merasakan dahsyatnya senjata pamungkas Potroe Neng. Walaupun tidak pernah bermaksud untuk membunuh suaminya sendiri, namun senjata yang dimiliki oleh Putroe telah memakan korban pertama hingga 98 korban berikutnya. Senjata itu adalah racun yang ditanam dalam kemaluannya sendiri, yang dipasang oleh neneknya, Khie Nai-nai saat Putroe remaja.
Di atas ranjang malam pertamanya, Sultan Meurah Johan pun tergeletak dengan tubuh yang sudah membiru. Sebiru lautan lamuri di siang hari.
Memang bukan keinginan Putroe Neng untuk menjadikan malam pertama menjadi malam terakhir bagi suami-suaminya. Karena sesungguhnya, racun yang ditanam nenek Putroe didalam kemaluannya tersebut  hanya sebagai  bentuk antisipasi dan senjata ampuh agar Putro tidak menjadi korban keganasan perang di luar ancaman fisik lainnya.
Dari sinilah kisah 99 lelaki yang menjadikan malam pertama sebagai malam terkahirnya dimulai. Setiap lelaki yang menikah dengan Putroe Neng menjemput ajalnya di ranjang pengantin saat malam pertama. Sebanyak 99 lelaki selalu mengatakan akan bermalam pertama dengan Putroe Neng, tapi tak pernah ada yang berhasil mengatakan “aku telah melewati malam pertamaku dengan Putroe Neng”
Sampai tiba saatnya, seorang Syeikh Syiah Hudam yang berpuluh-puluh tahun menjadi guru Putroe hendak meminang Putroe sebagai istrinya. Kelak Syeikh Syiah Hudam inilah yang berhasil mengatakan “aku telah melewati malam pertamaku bersama Putroe Neng dengan bahagia”
Seorang penjaga makam Putroe Neng bernama Cut Hasan mengkisahkan bahwa sebelum bercinta dengan Putroe Neng, Syiah Hudam berhasil mengeluarkan bisa dari alat genital Putroe Neng tanpa Putroe sadari. Racun tersebut dimasukkan ke dalam bambu dan dipotong menjadi dua bagian. Satu bagian dibuang ke laut, dan bagian lainnya dibuang ke gunung.
Disebutkan, Syiah Hudam yang menjadi suami ke-100 sekaligus suami terakhir Putroe, selamat dari kemelut malam pertama Putroe Neng, karena ia memiliki mantra penawar racun. Sayangnya, setelah racun tersebut keluar, cahaya kecantikan Putroe Neng meredup. Sampai ajal menjemputnya, Putroe Neng tidak mempunyai keturunan.
Putroe Neng disemayamkan bersama belasan korban perang Aceh abad 11 Masehi, di dalam kompleks pemakaman Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Letaknya persis di pinggir Jalan Medan-Banda Aceh (trans-Sumatera), yang kini sedang disiapkan menjadi lokasi cagar budaya.
Tak banyak referensi yang berhasil menggali kebenaran kisah tersebut. Menurut budayawan Aceh, Syamsuddin Djalil alias Ayah Panton, kisah kematian 99 suami hanya legenda meski nama Putroe Neng memang ada. Menurutnya, kematian itu adalah tamsilan bahwa Putroe Neng sudah membunuh 99 lelaki dalam peperangan di Aceh. Syamsuddin Jalil mengatakan bahwa sulit ditelusuri dari mana muncul kisah tentang kemaluan Putroe Neng  yang mengandung racun. Ali Akbar yang banyak menulis buku sejarah Aceh pun juga mengakui kisah kematian 99 lelaki itu hanyalah legenda.
Berbeda dengan Cut Hasan, penjaga makam Putroe Neng, menurutnya kisah kematian 99 suami Putroe Neng bukanlah mitos. Ia mengaku mengalami beberapa hal gaib selama menjadi penjaga makam. Ia bermimpi berjumpa dengan Putroe Neng dan dalam mimpi itu diberikan dua keping emas. Paginya, Cut Hasan benar-benar menemukan dua keping emas berbentuk jajaran genjang dengan ukiran di setiap sisinya. Satu keping dipinjam seorang peneliti dan belum dikembalikan. Sementara satu keping lagi masih disimpannya hingga sekarang

kisah cinta abadi laila majnun

Laila Majnun : Kekasih Dan Pecinta Sekarang saya akan mendefinisikan cinta dengan kisah Laila Majnun. Mungkin cinta bisa dipahami lebih konkret lagi lewat cerita Hakim Nizhami ini. Alkisah, pada zaman dahulu, dari suku Bani Amir, salah satu suku di jazirah Arabia, ada satu pasangan keluarga yang tidak dianugerahi anak. Mereka mendatangi berbagai tabib, agar mendapatkan keturunan. Singkat cerita, akhirnya Tuhan menganugerahkan anak kepada mereka. Anak itu sangat tampan, dicintai oleh setiap orang. Matanya coklat, rambutnya hitam. Ia diberi nama Qais. Seperti kebiasaan suku-suku pada zaman itu, anak itu dikirim ke sekolah khusus bangsawan. Di sekolah khusus itu juga masuk juga anak kepala suku yang lain. Ia seorang perempuan cantik jelita. Rambutnya hitam legam. Matanya pun hitam, sehitam malam hari. Sebab itulah ia digelari Laila. Laila dan Qais menjadi teman sekelas. Sejak pertemuan mereka yang pertama, mereka saling tertarik satu sama lain. Dalam perjalanan waktu, api cinta itu timbul, makin menyala. Dan sekarang, bagi mereka, sekolah bukan lagi untuk belajar melainkan mahall al-liqa, tempat pertemuan mereka berdua. Ketika guru sedang memberikan kuliah, mereka saling memandang. Ketika ada waktu untuk menulis pelajaran, masing-masing mereka menuliskan nama kekasihnya. Tidak ada orang lain. Seluruh dunia ini seakan-akan hilang. Dan seakan-akan dunia ini hanya didiami mereka berdua. Mereka tuli untuk mendengar suara yang lain, selain suara kekasihnya. Akhirnya orang-orang tahu bahwa di antara mereka berdua ada kisah cinta. Mulailah orang- orang membicarakan mereka, sehingga akhirnya pembicaraan itu sampai ke telinga orang tua Laila. Orang tua Laila beranggapan bahwa cinta yang ditampakkan oleh putrinya itu merupakan kejahatan, menodai kehormatannya sebagai kepala suku. Lalu orang tua Laila datang ke sekolah, meminta agar Laila dikeluarkan. Akhimya Laila tidak pernah lagi datang ke sekolah. Begitu Laila "hilang" (dalam tasawuf ada sebuah maqam yang disebut absence, ketidakhadiran. Maqam ini merupakan siksaan yang paling besar bagi seorang pecinta, yakni ketika sang kekasih tak lagi hadir), berubahlah tingkah laku Qais. Mengetahui Laila tak lagi datang ke sekolah, ia pun akhimya meninggalkan sekolah. la me­ ngembara di jalan-jalan, menyebut-nyebut nama Laila. la berjalan terseok-seok: la menulis puisi untuk Laila, dan membacakannya sepanjang perjalanannya. la tidak berbicara apa pun kecuali tentang Laila. Ketika orang lain mengajaknya berbicara, ia tidak pernah menjawabnya kecuali kalau orang itu membicarakan Laila. Tingkah seperti itu membuat orang- orang mentertawakan Qais, bahkan menyebutnya gila. Sejak itulah nama Qais hilang, digantikan dengan nama Majnun (Orang Gila). Karena banyak orang mengganggunya, mengalihkan perhatiannya dari Laila, maka Majnun memutuskan untuk meninggalkan masyarakat sama sekali. la tinggalkan kampung halamannya, orang tuanya, dan sahabat-sahabatnya. la pergi ke sebuah puncak bukit di dekat desa Laila. Di bukit itu ia bangun sebuah gubuk. Dan lewat jendela kecil gubuk itu ia pandangi rumah Laila. Sepanjang hari Majnun duduk di depan gubuknya. Di dekat selokan kecil yang mengalir ke rumah Laila, setiap hari ia petik sekuntum bunga. la alirkan bunga itu lewat selokan, dengan harapan di seberang sana Laila menangkap pesan kecintaannya. la berbicara, kepada burung- burung, meminta mereka untuk terbang ke rumah Laila dan mengatakan kepadanya bahwa Majnun tidak jauh darinya. Ketika angin bertiup dari rumah Laila ke bukit itu, ia hirup angin itu dengan hirupan yang panjang, karena angin itu berasal dari kampung Laila. Kalau ada anjing yang tersesat datang dari kampung Laila, ia pelihara anjing itu baik-baik. la rawat dan cintai anjing itu layaknya binatang suci sampai anjing itu meninggalkannya. Apa saja yang datang dari tempat sang kekasih, ia cintai dan sayangi, sama seperti cintanya kepada sang kekasih itu sendiri Bulan berlalu dan Majnun tidak melihat sedikitpun jejak-jejak Laila. Kerinduannya makin bertambah. Ia mulai merasa bahwa ia takan hidup lagi, tanpa sempat melihat wajah Laila Kawan-kawannya mendengar penderitaan Majnun. Suatu saat mereka dating dan membuat rencana untuk mempertemukan Majnun dan Laila. Rencananya sangat bagus. Kawan-kawannya semua menyamar sebagai perempuan, dan berkunjung ke rumah Laila. Kita belum bercerita tentang Laila. Sejak meninggalkan sekolah, Laila tidak berbuat apapun kecuali menyebut nama Qais. Dan aneh, setiap kali ia mendengar burung berkicau di dekat rumahnya, ia mendengar suara Majnun. Ia juga sering melihat bunga-bunga hutan yang dialirkan lewat selokan. Dan ia merasakan seakan-akan bunga- bunga itu adalah surat yang dikirimkan oleh Qais. Ia tidak pernah membicarakan Qais kepada siapapun, bahkan kepada teman terdekatnya sekalipun. Jadi, kalau kecintaan Majnun diumumkan kepada semua orang maka kecintaan Laila disembunyikan dalam-dalam di hatinya. Ia sembunyikan baik- baik. Dan ia tidak ingin siapa pun mendengar jeritan cintanya. Pada suatu hari, Majnun diantarkan oleh kawan- kawannya mendatangi kamar Laila, dengan menyamar sebagai perempuan. Kawan- kawannya menjaga di luar. Dan entah bagaimana Laila pun merasakan bahwa pada hari itu akan ada kunjungan Qais. Karnanya ia segera berhias dengan hiasan yang luar biasa. Laila menunggu di depan pintu. Ketika Majnun masuk, Laila terpukau diam, seakan-akan tak percaya bahwa Majnun betul-betul datang untuknya. Majnun berdiri di pintu untuk beberapa detik, mereguk kenikmatan kerinduan yang sudah sekian lama. la tidak berkata apa-apa. Pada akhimya mereka berduaan, nothing could be heard. Tidak ada yang kedengaran, kecuali suara detak jantung sang kekasih. Mereka saling memandang satu sama lain. Tidak sadar terhadap berlalunya waktu. Pada saat yang sama, salah seorang pembantu di rumah itu memperhatikan ada perempuan dikenal berdiri mematung di depan kamar itu. Segera ia mencurigainya. Singkatnya cerita, pemilik rumah diberitahu, dan akhirnya pertemuan itu dibubarkan. Sekarang ayah Majnun yang kebingungan oleh perilaku anaknya, apalagi sudah digelari Majnun, si Orang Gila. Ia berpikir, semestinya Qais dikawinkan saja agar kegilaannya hilang. Lalu ia datang melamar Laila. Sebagai kepala suku terhormat, ia berkata kepada ayah Laila : “saya fikir ada dua hal yang menentukan kebahagiaan, yaitu anak dan kekayaan. Anak saya sangat mencintai anak anda, dan kekayaan saya akan saya berikan kepadanya. Ayah Laila menjawab : “saya tidak keberatan anak saya menikah dengan Qais. Saya tahu dia anak mulia. Tapi setiap orang tahu bahwa dia anak gila. Ia berpakaian seperti pengemis. Mungkin ia sudah tidak mandi selama berabad-abad. Ia hidup bersama binatang, dan menjauhi orang banyak. Katakan padaku, sahabat, kalau engkau mempunyai seorang gadis sepertiku, maukah engkau mengawinkan dia dengan orang gila seperti anakmu. Alhasil, lamaran itu ditolak. Namun orang tuanya tetap berpikir bagaimana menyembuhkan kegilaan Qais. Lalu ia berfikir, mungkin penyakitnya itu akan sembuh dengan pergi haji. Dibawalah Qais untuk pergi haji. Di Baitullah Majnun' berdoa sambil menangis, "Duhai Yang Paling Terkasih, Raja dari segala raja. Engkaulah yang menurunkan rasa cinta, Saya hanya memohon satu hal saja kepadaMu. Angkatlah cinta saya setinggi-tingginya, sehingga sekiranya saya binasa sekalipun dan kekasih saya tetap abadi." Mendengar doa itu, bapaknya jatuh pingsan. Alih-alih sembuh, malah kegilaan anaknya parah. Setelah naik haji, Majnun tinggal di sebuah reruntuhan rumah. Rambutnya panjang. la hidup dengan binatang. la nyanyikan kecintaannya kepada binatang- binatang itu. Dari kecintaannya kepada Laila ia mencintai seluruh binatang yang ada di rimba raya itu. Sampai tidurpun ia bersama binatang buas. Binatang buaspun bisa dilunakkan oleh hati yang dipenuhi cinta. singkat cerita, Laila dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang kaya raya. Ibn Salam namanya. Tapi Laila mengatakan kepadanya bahwa ia tidak bisa menyentuh karena jiwanya tidak terletak di situ. Sekali lagi Laila tidak pernah menceritakan kecintaannya kepada Qais. Ia sembunyikan dalam hatinya. Dan suaminya tidak mau mengganggunya. la tidak ingin memperolehnya dengan paksa. la berharap bahwa suatu saat Laila akan give in juga. karena berita pernikahan Laila sampai kepada Majnun, ia menangis sepanjang hari. la menyanyikan lagu-lagu yang begitu mengharukan. Sehingga binatang-binatang pun menangis mendengamya. la terus menerus tinggal di reruntuhan rumah itu. Perasaannya kepada Laila tidak pernah berubah. Bahkan cintanya makin bertambah. Kemudian Majnun mengirim surat ucapan selamat kepada Laila. "Semoga kebahagiaan di seluruh alam semesta diberikan kepada anda. Saya tidak meminta apa pun sebagai tanda kecintaanmu. Saya hanya minta satu hal saja. Yaitu, hendaknya engkau selalu mengingat namaku, walaupun engkau sudah memilih yang lain sebagai teman dekatmu. Jangan lupakan bahwa ada seseorang di tempat lain yang sekiranya tubuhnya disobek-sobek sekalipun ia akan tetap menyebut namamu, LAILA..." Sebagai jawaban, Laila mengirimkan satu anting- antingnya sebagai tanda kecintaanya. Dalam suratnya Laila menulis, "Saya tidak pernah ingat satu saat pun dalam hidup saya, yang kosong dari mengingatmu. Saya sudah menyimpan kecintaan saya dalam batin saya begitu lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapa pun. Sementara engkau teriakkan kecintaanmu kepada seluruh dunia. Aku simpan nyala api cintaku jauh di dalam hati, padahal engkau bakar seluruh tempat dengan api cintamu Saya sekarang menghabiskan waktu saya dengan seseorang padahal jiwa saya sepenuhnya diberikan kepada yang lain. Katakan kepadaku, wahai kekasihku, siapakah yang paling gila di antara kita dalam bercinta: kau atau aku?".
 Singkat cerita lagi, Laila menderita kecintaan dan kerinduan yang tidak tertanggungkan. Akhirnya ia menderita batuk yang tid
Hingga sampai kepada bulan sepuluh, hati Qais yang rapuh akhirnya runtuh bergemuruh. Hanya tersisa asa nan menghembus pupus menggenggam setangkai cinta yang tulus tak putus. Di sudut lirik lentik mata Laila, puing-puing jiwa Qais mengerti. Laila tak mungkin lagi menanti puisi-puisi anggun di bisik-bisik padang gurun.

"Semua pria mengaku merengkuh jemari Laila. Namun Laila tak mengaku itu. Kecuali pada Qais Ibnu Al Mulawwah Ibnu Muzahim saja.", Qais lirih bersenandung mengharu biru. Namun kini Qais tak pernah tahu itu.

Laila Binti Mahdi Ibnu Sa'd, putri ayu Bani Amir itu diberi nama. Lail berarti sang malam. Karena sepertinya Tuhan hendak melukis malam pada penyejuk mata Bani Amir.

Rambut Laila yang mengombak panjang menggelung pekat hitam bagai langit malam. Namun parasnya berpendar cahaya serupa purnama yang tersipu malu-malu. Dan semua orang tahu bila Laila mau, binar matanya yang bening sekali mengerling, mampu menggulung dunia menjadi keping-keping.

Celakanya Qais salah satu yang terkena panah-panah asmara yang dilepaskan dari sudut mata itu.

Berawal dari sebuah ruang madrasah. Dunia Qais menjadi nafas nan sesak penuh keluh kesah. Semenjak tatap Qais tak sengaja beradu pandang dengan bola mata Laila, Qais bagai menghirup wangi kuntum-kuntum candu yang berwarna merah jambu. Qais jatuh hati lebam-lebam dicambuk rindu.

Hingga datang suatu hari si Ibnu Salam. Lelaki tanpa salam yang meminang perawan dalam pingitan. Adalah Ibnu Salam si pemetik rembulan satu satunya dan yang pertama. Membuat cinta Qais tidak lagi merah jambu penuh rona. Melainkan semerah darah sebening air mata.

Pedih merintih menahan perih. Qais teriris iris oleh rinai gerimis yang menangis. Namun tetap Qais memilih rindu daripada cemburu. Dan kisah-kisah mulai mengurai tentang kasih-kasih tak sampai. Duhai Qais remaja paling rupawan di seluruh semenanjung jazirah Arabia kini menjadi majnun-penyair gila! Menderas ayat ayat cinta untuk dan hanya untuk Laila.

Rindu Qais adalah rindu yang sederhana. Rindu yang bertiupan di antara semilir desir angin padang pasir. Beterbangan dengan sayap sayap imaji yang berkepak sajak menuju yang dicinta. Perlahan menerbangkan kerudung Laila dengan sengaja. Hingga terpa menyisir lembut rambut sempurna. Membelai helai demi helai tanpa sempat berkata-kata. Hanya sebatas menggoyang alang-alang ilalang. Hingga tangkai-tangkai bunga menjatuhkan kelopak demi kelopak Rosela.

Cinta Qais adalah cinta yang bersahaja. Isyarat maknawi yang mengelana di lembah maya. Mengembara pada aksara yang tak sempat mengeja. Dari satu kabilah ke kabilah yang lain. Dari satu kafilah ke kafilah yang lain. Di senyap bumi yang tandus fatwa cinta Qais menghunus. Di selasar kota-kota lorong-lorongnya Qais tak akan berjalan melainkan meninggalkan kecup mesra pada tiap dinding-dindingnya.

"Aku berjalan pada setapak jalan-jalan dari jalan-jalannya Laila dan menyusuri dinding-dinding purinya yang berbatu. Aku menciumi dinding ini dan dinding itu penuh hasrat rindu. Bukan karena puri itu merenggut hatiku penuh dengan cinta. Melainkan putri ayu yang terpenjara di dalam menara istananya." Qais lirih bersenandung mengharu biru. Namun kini mungkin Laila tak pernah tahu itu.

Qais hanyalah seorang Qais yang remuk dalam peluk samsara Laila. Bukan guru Rumi sang sufi yang menari-nari dimabuk asmara Tuhannya. Jika Rumi tenggelam pada baris baris mastnawi selaksa tafsir. Qais hanya larut dalam tuangan secangkir syair. Karena puisi hanya untuk orang-orang yang jatuh hati. Tidak untuk yang putus cinta. Dan puisi terbaik lahir dari rahim rindu yang bersipayah. Bukan dari jiwa-jiwa yang kalah dan patah.

tak pernah bisadisembuhkan. Laila meninggal dunia. Menjelang akhir hayatnya ia sempat memandang ke pintu tempat Majnun pernah datang ke kamarnya setalah dia menyadari bahwa malaikat maut akan menjemput .laila,untuk terakhir kali nya,meminta ibu nya agar jika ia mati nanti memakaikan baju pengantin berwarna merah darah sebagai lambang syuhada cinta dan cadar dari tanah yang tak akan lepas lagi.selain itu laila meminta dirias secantik mungkin.laila meminta ibunya mewarnai kelopak matanya dengan debu dari bawah telapak kaki kekasih nya,menggunakan air mata kekasih untuk memandikan nya,serta menggunakan kesedihan kekasihnya sebagai wewangiannya.''lalu aku akan menunggu .aku akan menunggu hingga ia datang,karena dia pasti datang.pengelana yang resah,pengembara cinta yang abadi itu akan menemukan jalan menuju makam ku dan disana ia akan bersimpuh dan memohon padaku untuk menunjukkan diri.namun cadar dari tanah itu tidak akan terangkat,maka yang bisa dia lakukan hanyalah menangis tersedu-sedu.tenangkan dia,ibu,karena dia adalah sahabat sejatiku.perlakukan dia dengan baik dan berikan dia kasih sayang,seakan-akan dia adalah anak mu sendiri.. Dan... ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Diam-diam ia menggumamkan kata MAJNUN... Berita tentang kematian Laila menyebar, dan sampai juga ke telinga Majnun. Mendengar berita itu, Majnun pun jatuh pingsan. Beberapa hari ia tak sadarkan diri. Saat sadar, dengan tertatih-tatih ia datang ke kuburan Laila. Di situ ia menangis berhari-hari sampai akhimya Tuhan mengambil nyawanya. Tubuh Majnun tergeletak di situ selama setahun. Tidak ada orang yang tahu. Sampai ketika diadakan haul Laila, orang-orang datang ke kuburan, dan menemukan mayat Majnun di atas pusara Laila. Kemudian mayat Majnun dikuburkan bersama dalam satu kubur, di tempat yang sama. Di tempat yang abadi itulah keduanya bertemu. Sebagai akhir cerita, adaseorang sufi bermimpi melihat Majnun berada di samping Tuhan, dan Tuhan membelai-belai kepala Maj­ nun dengan penuh kecintaan dan kasih sayang. Majnun disuruh duduk di samping Tuhan, ke­ mudian Tuhan berkata kepada Majnun, "Tidakkah engkau malu memanggil Aku dengan nama Laila setelah kauteguk anggur cinta- Ku?" Sufi itu terbangun dalam keadaan melihat posisi Majnun. Lalu dimana posisi Laila? Tuhan kemudian mengilhamkan ke dalam hatinya, bahwa posisi Laila lebih tinggi lagi, karena Laila menyembunyikan cintanya dalam hatinya.Kaum Sufi menganggap Majnun dan Laila adalah kisah kecintaan seorang pecinta dengan Tuhannya, kekasihnya Laila adalah Tuhan, yang tersembunyi. Sementara Majnun adalah pecinta. Belajar Cinta dari Majnun Dalam tingkah laku Majnun itulah cinta didefinisikan dengan sangat konkret. Misalnya Majnun mencintai apa saja yang datang dari kekasihnya. Angin, bahkan anjing pun ia cintai, karena anjing itu berasal dari tempat kekasihnya. Dan tidak ada kenik­ matan yang paling besar kecuali menyebut-nyebut nama kekasihnya. Bagi Majnun, tidak ada yang paling nikmat kecuali menyebut nama Laila. Orang yang sudah mencintai Tuhan, seperti majnun, mungkin akan dianggap gila oleh orang-orang. Salah satu dalil mengapa kita boleh kuburan Rasulullah bisa kita jelaskan dari syair Majnun. Majnun membuat puisi-puisi kerinduannya kepada Laila. Dalam salah satu puisinya Majnun berkata: “Kucium dinding itu,bukan dinding itu tetapi karena kecintaanku kepada dia yang berada di balik dinding itu. " Kalau kita mencintai seseorang, maka seperti Majnun, kita akan menyukai apa saja yang dari orang itu. Seperti pembicaraannya, atau pembicaraannya. Karena itu, salah satu cara untuk untuk memperkuat kecintaan kepada Allah ialah kita harus banyak membaca dan mempelajari AIQuran. Itu syarat pertama. Kita tidak bisa mencintai dia kecuali lewat sesuatu yang datang dariNya.Dan Al-Quran adalah kalam Allah yang datang dari- Nya. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: "Inna hddza alqur'an ma'dubatbatullah fa ta'allamuu ma'dubatah”. Sesungguhnya AI-Quran ini adalah hidangan (yang diberikan oleh) Allah. Maka pelajarilah hidangan itu semampu kamu. AI-ma'dubah adalah makanan yang dihidangkan oleh seseorang sebagai penghormatan kepada tamunya: makanan khusus yang diberikan kepada seseorang yang kita sukai. AI-Quran adalah ma'dubatullah. Para pecinta yang ingin menikmati kerinduannya kepada Allah SWT, akan membaca Al-Quran, atau mereka menyuruh orang lain untuk membacakannya. Rasulullah SAW juga sering menyuruh orang untuk membaca AI-Quran untuknya. Seorang sahabat berkata: "Ya Rasulullah, kausuruh aku membaca Al-Quran padahal ia diturunkan kepadamu." Nabi bersabda: "Aku ingin mendengar­ kannya dari yang lain." Ketika sahabat itu membacakan AlQuran, Rasulullah SAW menangis tensak-isak Sahabat itu menghentikan bacaannya. karena mendengar Rasulullah menangis. Tapi Rasulullah menyuruhnya meneruskan bacaan Itulah tangisan kerinduan. Ada belasan munajat yang disampaikan oleh imam Ali Zainal Abidin yang isinya, kalau anda perhatikan, merupakan bisikan- bisikan mesra dari seorang pecinta kepada Kekasihnya. Saya akan bacakan salah satu munajat penempuh thariqat (munajat al-muridin). Saya meng­ gambarkannya sebagai contoh bahwa doa ini adalah berupa munajat, bisikan. "Aku memohon kepada-Mu, jadikan daku yang paling banyak mendapat karunia-Mu; yang paling tinggi kedudukannya di sisi-Mu; yang paling besar bagiannya dari cinta-Mu; yang paling utama memperoleh ma'rifat-Mu; untuk-Mu saja tercurah keinginan-Ku;kepada- Mu jua terpusat hasratku; hanya Engkaulah tempat kedambaanku, tidak ada yang lain;karena engkau sajalah aku tegak terjaga, tidak karena yang lain;Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku; pertemuan dengan-Mu kecintaan diri-Ku; kepada-Mu kedambaanku, kepada cinta-Mu tujuanku; pada kasih-Mu gelora cinta-Ku; ridha- Mu tujuanku;melihat-Mu keperluanku; mendampingi-Mu keinginanku; mendekati-Mu puncak permohonanku;dalam menyeru-Mu ada damai dan tentramku; di sisi-Mu penawar deritaku, penyembuh lukaku,penyejuk dukaku, pengobat pedihku. " Doa-doa seperti ini disebut munajat, whispers. Tapi itu bukan berarti kita tidak boleh berdzikir keras. Ada saat-saat ketika ketika harus berdzikir dengan keras, tapi bukan ketika kita mengungkapkan cinta kepada Allah. Misalnya dalam peperangan, kita dianjurkan untuk berdzikir dengan keras. Karena Tuhan adalah Zat Yang Mahasuci, dan hanya bisa didekati oleh orang-orang suci, maka ketika seseorang hendak kembali kepada Dia, maka ia harus berada dalam keadaan suci. Karena itu, kata "kembali" dan "bersuci" dalam AI-Quran didekatkan. "lnnallah yuhibb al- tawwaabiin wa yuhibb al- mutathahhirin." Tuhan mencintai orang yang terus menerus kembali clan mencintai orang- orang yang membersihkan diri. Sebab itu pula, salah satu riyadhah untuk memperoleh kecintaan Allah ialah memelihara wudhu kita. Dalam sebuah hadis qudsi Allah SWT berfirman, "Siapa yang hadats dan tidak berwudhu, ia sudah meninggalkan-Ku. Siapa yang berwudhu tetapi ia tidak sholat dua rakaat ia juga sudah melalaikan-Ku; siapa yang salat dua rakaat tapi tidak berdoaia juga telah mengabaikan-Ku; Siapa yang hadast berwudhu, dan salat dua rakaat kemudian berdoa kepada-Ku, kemudian aku tidak memperkenankan doanya, baik urusan agama maupun dunia, berarti Aku sudah meninggalkan dan. Dan aku bukanlah Tuhan yang suka meninggalkan kekasihnya." Saya membaca tulisan Hassan Zadeh Amuli: "Ketahuilah wahai pembaca tersayang Sesungguhnya wudhu adalah cahaya. Selalu berada dalam keadaan suci adalah alat agar engkau naik menuju alam yang suci, inilah aturan yang agung , yang diajarkan oleh agama kita. Kemudian jika engkau selesai salat, sujud dan bacalah doa pada waktu sujud Allahumma urzuqnii halaawah al dzikr wa liqaa 'ik wa al-hudhuur’indak. Ya Allah anugrahkanlah kepadaku manisnya menyebut namaMu, indahnya pertemuan denganMu dan hadir dihadapan-Mu." Berdasarkan QS Al-A’raf 7:31 disebutkan bahwa Allah tidak menyukai orang yang berlebih- lebihan dalam makan dan minum Karena itu, kalau kita ingin memperoleh cinta Tuhan, dan belajar mencintai-Nya kita harus menghindari hal-hal yang tidak disukai oleh kekasihnya, dan akan menyukai apa saja yang yang disukai olehnya. Dalam kisah Laila Majnun yang lengkap diceritakan bahwa Laila mempunyai sekawanan kambing. Kambing-kambing itu dibiarkan merumput di lapangan. Majnun memeluk kambing-kambing itu dengan pelukan mesra Karena kambing itu kepunyaan Laila. Sampai Majnun iri hati kepada kambing tersebut karena mereka bisa berjumpa dengan Laila sementara dirinya tidak. Hingga akhirnya, entah mendapatkan ilham dari mana, kemudian Majnun menyamar jadi kambing. Ia mau menjadi kambing sekalipun, asal bisa menatap wajah Laila. la mau meletakkan dirinya dalam keadaan hina sekalipun, asal ia bisa memandang wajah Laila. Imam Khomeini berkata : “Ibadah yang sebenarnya tidak akan bisa dicapai kecuali dengan menyadari izzah rubuubiyyah.” Maksudnya ibadah seperti tidak bisa diperoleh sebelum kita merasakan kemuliaan Tuhan dan kehinaan diri kita. Dalam QS Al A’raf itu disebutkan, "Makan dan minumlah. Dan jangan berlebih-lebihan.. Sesungguhnya Allah tidak orang-orang yang berlebih-lebihan." Sesungguhnya Allah tidak menyukai yang berlebih-lebihan.” Oleh karena itu, ketahuilah, wahai kekasih, usahkan agar ngkau mengurangi makan dan minum, jika engkau mau belajar mencintai Allah SWT. Jika seseorang banyak makan dan minum, hatinya akan keras, matanya akan jumud (beku). Mata yang jumud artinya mata yang sukar meneteskan air mata. Orang yang kenikmatannya hanya makan dan minum saja, ruhnya di alam ruhani yang berbentuk babi (khinzir). Jadi, puasa adalah latihan untuk mencintai Allah SWT. Rasulullah pernah berkata kepada Aisyah, "Hai Aisyah rajin-rajinlah mengetuk pintu surga!" Bagaimana kami harus mengetuk pintu surga'?", tanya Aisyah. "Dengan lapar dan dahaga," jawab Rasulullah. Kita berharap agar pintu surga dibukakan untuk Kita. Kita adalah Majnun yang mengetuk pintu rumah Laila dengan lapar dan dahaga. Sayang sekali, kecintaan Tuhan itu tersembunyi dari kita. Kita tidak mengetahui kecintaan Tuhan kepada kita. Jadi, kita tidak tahu apakah pintu itu sudah dibukakan untuk kita atau belum. Tapi Al Quran memberitahukan kepada kita, bahwa terbukanya pintu. Yaitu, "Hai jiwa yang tentram, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai." Yakni dalam keadaan cinta dan dicintai. Ridha adalah salah satu bagian dari cinta. Dengan demikian, salah satu tanda terbukanya pintu surga untuk kita adalah jiwa yang tenteram. Jika jiwa kita sudah merasa tenteram, itu pertanda bahwa pintu syurga terbuka.* (Ditranskrip dari uraian Ust. Jalal dalam Paket Tasawuf Cinta yang diselenggarakan oleh Yayasan Muthahhari 11-16 Ramadhan 1417/25 Januari 1997)

Sudah benar kah syahadat kita

 Tuan-tuan dan puan-puan yang dirahmati Allah sekalan. Disini saya tidak bercadang untuk mengupas atau tidak bercadang untuk menterjemahan syahadah dalam bentuk kalimah tauhid atau kaliamah Rasul. Keranan kaimah tauhid dan kalimah Rasul,  tafsir panjang lebar sudah terkandung dan sudah terdapat didalam kitab mengenal makrifat (kitab mengenal Allah yang bewarna hijau), halaman 26 daripada muka surat 496  sehingga 530.
Dikesepatan ini, saya bercadang untuk membicarakan tentang peyaksian, iaitu apa maksud saksi dan apa makna meyaksikan!. Sebelum berkalimah syahadah, terlebih dahulu marilah bersama-sama kita memohon petunjuk dan hidayah dari Allah s.w.t, agar lafaz yang terkeluar dari kalam bibir kita itu, dipersetujui, diperkenan dan diredhai Allah s.w.t.
Bagi mendapatkan perkenan atau persetujuan Allah s.w.t, hendaklah terlebih dahulu kita tanya kepada diri kita sendiri, apakah kalimah syahadah yang telah berlangsung di kalam bibir kita itu, dihayati dengan sajian  ilmu atau berlangsung dengan sekadar dendangan alunan suara  bibir?. Hanya hati mereka-mereka yang ditunjuki, dianugerah dan yang   dikehendaki  Allah s.w.t sahaja yang dapat membuka simpulan iman yang tersembunyi di sebalik kalimah syahadah. Allah s.w.t sahaja yang dapat membuka simpulan iman itu dan hanya Allah s.w.t sahaja yang dapat  memberi petunjuk ke arah mengetahui rahsia di sebalik syahadah.
Simpulan iman yang tersimpul di sebalik syahadah itu, teramat sulit untuk dibuka oleh akal. Syahadah itu, tersimpul disebalik simpulan iman. Simpulan iman itu tersimpul di dalam  kalimah  “tahu“  tetapi tidak  “mengetahui” (kenal). Perkataan tahu itu, adalah  simpulan yang tersimpul di sebalik khayalan akal  atau hanya sekadar angan-angan.

 Tanya: Siapa saksi dan siapa yang meyaksikan?.
Jawab: Semasa melafaz dua kalimah syahadah, kita dikehendaki menghadirkan saksi dan mengadakan saksi. Barulah lafazan kita itu diterima pakai, jika kita melafazkan dengan tidak ada saksi, seumpama lafaz seekur burung tiung dan seumpama lafaz dari sebuah radio kaset. Lafaz kita itu tidak ubah seperti lafaz yang keluar dari bibir seorang kanak-kanak yang belum akil baligh.

Sebelum kita melafazkan kalimah syahadah, terutamanya di dalam solat, kita dikehendaki menghadirkan dan menyatakan wajah Allah terlebih dahulu di dalam hati. Setelah wajah Allah itu benar-benar hadir di dalam lubuk hati kita, barulah dua kalimah syahadah yang kita ucapkan itu, ada nilai, ada makna dan ada yang menyaksikannya. Jika Allah tidak dapat kita hadirkan, kepada Tuhan mana hendak kita persaksikan syahadah kita?.

Siapakah saksi dan siapakah yang menyaksikan di kala kita melafazkan kalimah syahadah?. Yang bersaksi (melafaz) kalimah syahadah kita itu, adalah roh, saksinya adalah Allah sendiri dan yang meyaksikannya atau selaku pemerhatinya, adalah anggota zahir dan makhluk alam seluruhnya. Oleh itu sebelum bersyahadah, kita dikehendaki menghadir dan menzahirkan wajah Allah terlebih dahulu, sebagai saksi ucapan syahadah kita. Barulah ucapan kita itu, boleh dikatakan dilafaz melalui saksi.

Jika kita tidak dapat menghadirkan Allah sebagai saksi, siapa lagi yang hendak menjadi saksi kita?. Tidak sah sesebuah kesaksian (perjanjian), bila kita yang melafaz, kita yang menjadi hakim dan kita juga yang menjadi saksinya.

Syahadah yang sah dan yang diterima Allah itu, adalah syahadah yang disertai dengan saksi. Saksi syahadah kita itu, adalah Allah sendiri, tidak ada perantaraan dengan yang lain selain Allah. Seandainya kita tidak mengenal Allah, bagaimana untuk menghadirkan Allah ke dalam hati, sebagai saksi!. Seandainya kita tidak mengenal diri, bagaimana pula untuk menghadirkan roh, bagi menyaksikan perjanjian syahadah kita, ketika mulut melafazkan syahadah?. Selaku orang Islam, jangan kita ambil mudah dan pandang ringan tentang syahadah, ianya adalah payung kepada segala ibadah.

Apabila kedua-duanya tidak dapat kita hadirkan diketika bersyahadah atau diketika sembahyang, apalah ertinya sebuah kalimah syahadah dan apalah maknanya sebuah ibadah sembahyang. Cuba  ajukan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri, apakah ucapan kalimah syahadah dan sembahyang kita itu, sudah dihadiri oleh wajah Allah dan   roh?. jika jawapannya memihak kepada tidak, apalah ertinya, gunanya dan nilainya sebuah syahadah atau solat kita itu, tanpa kehadiran keduanya!. Seandainya kita tidak mengenal Allah, kita tidak akan dapat memahami apa ertinya sebuah kalimah tauhid (Laila hailallah). Manakala seandainya kita tidak mengenal diri,   kita tidak akan dapat memahami erti sebutan kalimah rasul (Muhamadul Rasulullah). Pokok pangkalnya di dalam sebarang ucapan kalimah syahadah yang kita lafazkan itu, ianya memerlukan kepada perkara mengenal Allah dan Rasulnya terlebih dahulu. Barulah segala ibadah dan segala ucapan yang kita lafazkan itu, penuh makna dan penuh erti serta diterima Allah Taala. Apabila kita melafazkan ucapan dua kalimah syahadah atau bersolat, hati kita hendaklah terlebih dahulu menghadirkan Allah. Setelah Allah itu hadir dengan jelas dan nyata di hati kita, barulah lafaz kita itu dianggap sah dan disertai sekali  dengan saksi dan yang menyaksikannya. Barulah syahadah kita itu, diperakui benar oleh Allah Taala.

Kita tidak perlu menghadirkan orang lain selain Allah bagi menjadi saksi  dalam berkalimah. Antara kita dengan Allah, tidak ada hijab, dinding, tembok, sempadan atau perantara. Segala makhluk tidak layak untuk menjadi saksi lafazan keramat syahadah, melainkan Allah sendiri. Bagaimana untuk menzahir dan menghadirkan Allah ke dalam hati kita!, cara dan kaedah untuk menzahir  dan menghadirkan wajah Allah ke dalam hati, adalah dengan belajar ilmu mengenal Allah (ilmu makrifat). Manakala semasa kita melafazkan kalimah rasul (Muhamad Rasulullah), kita dikehendaki mengenal diri (mengenal roh) terlebih dahulu. Bagi yang   tidak mengenal diri, bagaimana untuk menzahir dan menghadirkan roh untuk bersaksi (berjanji). Bagi sesiapa yang tidak dapat menghadir dan menzahirkan roh, siapakah lagi yang layak untuk menyampai dan mengucapan kalimah syahadah kita kepada Allah?.

Anggota zahir seumpama bibir mulut, hanya selaku pemerhati atau selaku menyaksikannya sahaja, tidak lebih dari itu. Diri kita yang zahir ini hanya selaku tukang sebut sahaja, seumpama kuli angkat barang. Selaku kuli, tugas kita hanyalah angkat, angkut dan pikul barang, manakala yang menerima barang itu, adalah majikan kita (roh), selaku tuan yang empunya barang, kita  selaku kuli hanya dapat penat dan dapat pandang sahaja, tanpa dapat rasa sedikit pun dari barang yang kita angkut. Inilah nasib kuli dan nasib orang yang kena suruh.

Apalah yang ada pada kita, selaku hamba abdi yang fakir lagi daif untuk menjadi saksi lafaz kalimah Allah Yang Maha Tinggi. Cuba kita gerak-gerakkan bibir orang yang sudah mati, anggota orang mati itu, boleh bergerak bila ianya digerakkan, sebegitu jugalah taraf dan kedudukan diri kita selaku seorang hamba Allah, selaku abdi dan selaku kuli yang fakir. Sudah tentu tidak layak menjadi saksi dan bersaksi dengan Allah, dalam melafazkan kalimah syahadah.

Yang melafazkan ucapan kalimah syahadah itu, adalah diri rohani (roh) yang berkedudukan tinggi dan bukannya lafaz dari sifat anggota diri jasmani yang berkedudukan rendah lagi kotor, apa lagi dari seorang diri yang tidak kenal diri dan mengenal Allah. Diri jasmani tidak ubah seumpama diri orang mati, yang tidak berkuasa melafazkan kalimah Allah Yang Maha Tinggi. Yang akan menyambut kalimah itu  nantinya, adalah dari kalangan yang tinggi-tinggi kedudukannya. Apabila yang menyambutnya berkedudukan tinggi, semestinya yang melafazkannya juga, seharusnya dari kalangan yang berkedudukan tinggi juga. Rohani (roh) kitalah sebenarnya yang melafazkan kalimah syahadah Yang Maha Tinggi itu.

Kalimah syahadah yang kita lafazkan itu, apakah bukan sekadar main-main atau sekadar lafazan dari seekor burung tiung atau dari bibir mulut seorang yang hanya tahu menyebut sahaja?. Apabila kedudukan yang melafaz itu berada pada kedudukan tinggi, barulah yang berkedudukan tinggi juga akan menyambutnya. Yang menyambut syahadah kita itu adalah Allah sendiri.

Setiap kali syahadah yang disebut, setiap kali itu juga bergegarnya tiang arash. Seandainya tiang arash Allah yang menjadi pasak bumi boleh bergegar bila mengucapkan kalimah syahadah, inikan pula hati kita yang lembut. Sudah tentu gegaran, getaran serta sentuhan lafaz kalimah syahadah itu, teramat hebat menerjah ke dinding hati.

Tidak ada yang dapat mengegarkan tiang arash Allah, melainkan kalimah syahadah.  Letupan gunung berapi dan laungan malaikat Israfil semasa meniup trompet sangka kala di hari kiamat, tidak sediki tpun dapat mengegarkan tiang arash, melainkan hanya kalimah syahadah dari hamba-hambaNya yang mengenal Allah. Begitulah besar, tinggi, hebat serta dahsyatnya ucapan kalimah syahadah itu, bila ianya dilafaz dengan pengetahuan ilmu mengenal Allah, sehingga ianya dapat mengegar dan mengoncang pintu hati dengan rasa yang amat hebat dan dahsyat. Kalimah syahadah yang keluar dari peti suara kita, janganlah sama dengan suara   yang keluar dari peti radio kasetatau dari peti suara seekor burung tiung. Untuk membezakan lafaz kita itu, berbeza dengan lafaz kanak-kanak yang belum akil baliqh atau lafaz burung tiung, kita hendaklah mengenal diri (roh) dan mengenal Allah. Barulah lafaz kita itu, benar-benar lafaz kalimah syahadah yang sebenar-benarnya berbeza dari mereka yang tidak mengenal Allah. Barulah lafaz syahadah kita itu ada saksi, bersaksi dan ada yang menyaksikannya.

Kalimah syahadahlah yang menentu dan membezakan apakah kita itu, benar-benar seorang Islam atau tidak. Apabila benar dalam bersyahadah, maka akan benarlah dalam sembahyang dan benarlah juga menjadi seorang Islam muslim  yang beriman.

Yang bersyahadah, yang berjanji dan yang bersaksi itu adalah roh. Yang menjadi saksi dan yang menerima penyaksian kita itu, adalah Allah sendiri, tanpa ada makhluk perantaraan. Manakala anggota tubuh dan makhluk sekalian alam ini, hanya bertindak selaku pemerhati  dan selaku menyaksikannya sahaja. Ingat itu!.

Sungguhpun begitu, tuan-tuan harus ingat, pengajian ilmu syahadah belum tamat dan belum putus disini!.  Tangga pengajian sebagaimana saya nyatakan diatas dan sebagaimana saya nyatakan dalam kitab pertama (mengenal makrifat atau mengenal Allah) itu, belum tamat dan belum putus. Pengajian dalam kitab pertama atau pengajian ilmu syahadah sebagaimana saya hujahkan diatas, itu adalah pengajian ilmu bagi mereka-mereka yang duduk pada anak tangga syariaat atau tangga torikat!. Penerangan ilmu pada peringkat itu, hanya baru berlegar dalam lingkungan  ilmu feqah. Saya belum sentuh lagi syahadah dalam bentuk ilmu hakikat dan makrifat!.  Manakala dalam kitab ketiga ini, akan saya nyatakan syahadah yang lebih tinggi!, menurut saluruan, menurut sudut pandang atau menurut kefahaman  ilmu hakikat dan makrifat!.


Soal:  Bagaimana hakikat syahadah menurut sudut pandang ilmu makrifat?.
Jawab: Tuan-tuan dan puan-puan yang dirahmati Allah sekalian. Lafaz syahadah yang sebenar mengikut sudut pandang ilmu hakikat itu, bukan lagi terletak pada saksi, diperaksi atau meyaksi lagi!. Sebutan bersaksi, saksi dan meyaksikan itu, adalah syahadah yang berada pada anak tangga ilmu syariaat. Iaitu sebutan atau lafazan yang terbit, yang keluar dan yang terzahir di bibir mulut itu, adalah sekadar bunyi yang keluar dari suara halkum!. Syahadah diperingkat ilmu syariaat itu, adalah syahadah lafah yang keluar bertujuan untuk meletakkan suara menjadi saksi!. Sedangkan suara tidak boleh menjadi saksi!. Kebanyakkan kita, secara tidak sedar dan secara tidak sengaja, telah meletakkan suara bagi menjadi saksi, bersaksi dan meyaksikan dalam bersyahadah!.


Soal: Bagaimana syahadah makam (tangga) orang Feqah (syariaat) atau syahadah orang awam?
Jawab: Orang syariaat menyebut kalimah syahadah “aku bersaksi atau aku naik saksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah”. Pada peringkat permulaan (peringkat syariaat), sebagaimana dinyatakan didalam kitab pertama  ( Kitab Mengenal Makrifat), pengarang telah meletakkan adanya   perkara bersaksi,  saksi dan meyaksikan. Iaitu roh itu bersaksi, Allah itu saksi dan tubuh badan sebagai meyaksi.


Soal: Bagaimana syahadah makam (tangga) orang torikat;
Jawab: Adapun syahadah peringkat orang hakikat bilamana melafaz perkataan syahadah itu, adalah lafazan yang disertai dengan “mengetahui”. Bukan syahadah yang berpaksi kepada ikar mulut, bukan berpaksi kepada bersaksi, bukan berpaksi kepada meyaksi dan tidak berpaksi kepada disaksikan!, tetapi berpaksi kepada mengetahui!.

Bilamana tingkatan ilmu sudah sampai kepada tangga hakikat, sudah tentu lafaz syahadah kita memberi pengertian yang lebih tinggi, berbanding tahao syariaat. Orang syariaat berpaksi kepada “suara atau kepada bunyi”, manakala orang torikat melafas kalimah syahadah pula, adalah berpaksi kepada “megetahui”, aku mengetahui bahawa Allah itu, adalah Allah”.


Soal: Bagaimana syahadah makam (tangga) orang hakikat dan makrifat;
 Tidak perlu kepada bersaksi, saksi dan tidak perlu lagi kepada peyaksian!. Tidak perlu lagi kepada apa-apa. Tidak perlu kepada perkara suara dan tidak perlu kepada perkara mengetahui. Syahadah makam orang hakikat dan orang makrifat itu, bukan lagi berhajat kepada niat “aku naik saksi” bahawa tiada Tuhan lain selain Allah tetapi lebih berhajat kepada “aku mengetahui” bahawa Allah itu, adalah
Allah!.
Orang hakikat atau orang makrifat itu, makam syahadahnya bukan lagi duduk pada sebutan mulut atau niat hati tetapi duduk kepada daripada Allah kepada Allah sendiri. Syahadahnya mereka-mereka yang mengenal Allah itu, adalah syahadah yang disertai dengan perkara “rasa”. Mereka-mereka yang mengenal Allah (makrifatllah) itu, tidak lagi perlu saksi, bersaksi atau meyaksi lagi. Bagi mereka-mereka yang sudah tamat dan sudah khatam dalam bidang ilmu makrifat itu, tidak ada lagi berdalil dengan mulut, suara, saksi, bersaksi atau meyaksikan!.

Cukuplah Allah itu, adalah Allah. Allah bagi orang makrifat itu, teramat jelas, terang dan teramat nyata, yang tidak perlu lagi berdalil dengan yang lain selain Allah!. Apa yang hendak saksi meyaksikan lagi, bukankah Allah itu nyata!. Setelah nyatanya Allah itu senyata-nyatanya, apakah masih masih memerlukan kepada saksi dan yang memerlukan kepada peyaksian  lain?.

Mereka-merea yang belum nyata Allah sahaja, yang masih lagi nak diadakan dalil–dalil lain, yang masih nak disaksi atau yang terpaksa dibenar, terpaksa disah atau terpaksa diiakan oleh orang lain. Apakah tidak cukupkah Allah yang membenarkan ucapan kita?. Terjemahan sebenar kalimah La Ila haillah” itu, adalah bermaksud “Aku mengetahui  tiada lain melainkan hanya Allah”. Jika tidak kita faham dan tidak kita ketahui  makna di sebalik maksud, seberapa banyak sekalipun kita menyebut perkataan bersaksi atau  kita menyebut perkataan naik saksi, tidak bermakna kita sudah bersyahadah!. Lafaz syahadah kita itu, hanyalah sekadar lafaz di bibir yang berangan-angan atau khayalan akal semata-mata!.

Lafaz syahadah dalam keadaan tidak mengetahui, adalah lafaz yang tidak terlafaz atau ucap yang tidak terucap. Syahadah dari bibir mereka-mereka yang dalam berkeadaan hilang ingatan, hilang akal, khayal atau dalam berkeadaan mabuk. Lafaz syahadah dari bibir orang  yang “tidak megetahui” itu, seumpama  garam yang tiada masin!. Lafaz yang tidak diterima Allah s.w.t!.

Maksud atau makna perkataan “mengetahui” itu, adalah merujuk kepada “mengenal”. Sekiranya kita tidak mengenal Allah s.w.t, apa kesaksian yang hendak kita persaksikan atau yang hendak kita  persembahkan kepada Allah s.w.t?. Cuba anda jawab pertanyaan saya?.

Setiap yang bersaksi, hendaklah terlebih dahulu mengenal antara satu sama lain. Sepatutnya yang bersaksi itu, mengenal dengan yang menyaksikannya!.  Sekiranya saksi tidak kenal kepada yang menyaksi dan yang menyaksi pula tidak mengenal kepada yang bersaksi, apakah ertinya bersyahadah?. Di antara mereka saling tidak kenal-mengenal di antara satu sama lain, apa yang hendak kita persaksikan?.



Kefahaman Mengenai Peyaksian Atau Kesaksian Semasa Bersyahadah Dua Kalimah Syahadah, Mengikut Suluhan Ilmu Makrifat

 Bagi mereka-mereka yang sudah mengenal diri dan mengenal Allah, tidak ada lagi perkara saksi, perkara bersaksi atau perkara menyaksi.

Diri kita, adalah sifat yang bersifat dengan sifat lebur, sifat binasa dan sifat tidak ada!. Bilamana segalanya sudah lebur, sudah binasa dan sudah fana, apakah lagi yang tersisa atau terbaki pada kita?. Setelah tidak ada lagi yang tersisa, tidak ada yang berbaki dan tidak ada yang tertingggal, apa lagi dan siapa lagi yang hendak meyaksi atau bersaksi?.

Sebagai makhluk, kita adalah bersifat dengan sifat binasa. Setelah binasa segala sifat makhluk, mana adanya lagi kita?. Setelah diri kita semuanya tidak ada, siapa lagi yang hendak meyaksi dan siapa lagi yang hendak bersaksi?. Cuba jawab?……………….

Setelah kita tidak ada dan setelah sifat kita binasa, siapa lagi yang hendak menjadi saksi?. Seandainya tidak ada saksi, mana mungkin untuk menyaksikan kesaksian!. Saksi itu roh dan yang bersaksi itu tubuh badan (bibir mulut), manakala yang menyaksikan kesaksian kita itu, adalah Allah s.w.t. Setelah roh dan setelah segala anggta tubuh badan kita telah selamat kita kembalikan kepangkuan Allah (mati sebelum mati), apa lagi yang hendak Allah tageh dari kita dan apa lagi yang hendak Allah tuntut atas kita?.

Cuba jawab pertanyaan saya, setelah segalanya (jiwa dan raga) telah tidak ada (semua telah kembali menjadi milik Allah). Apakah lagi yang hendak Allah tuntut?…………………………………

Seandainya sifat tubuh badan dan roh kita binasa, kemana lagi hendak kita hadapkan penyaksian kita?.  Itulah makanya bagi mereka yang sudah sampai kepada tahap makrifat, tidak ada lagi yang menjadi saksi, tidak ada lagi yang bersaksi dan tidak ada lagi yang menyaksi!…………………………..

Melainkan yang ditilik itu, adalah juga yang menilik, yang dililhat itu, adalah yang yang melihat, yang dipanggil itu, adalah juga yang memanggil dan ya meyembah itu adalah juga yang disembah!……………………..

Seumpama sifat garam sudah kembali pulang kedalam sifat masin. Tidak ada lagi sifat garam melainkan segala-galanya masin belaka!. Setelah segala-galanya masin, maka hilanglah ketulan garam dan leburlah sifat garam kedalam masin!. Setelah hilangnya garam dan setelah segalanya masin, siapa lagi yang hendak menyaksi siapa?. Cuba jawab?………………………..

Inilah yang dikatakan tangga atau martabat pelajaran ilmu makrifat!. Bicara ilmu makrifat ini, nampaknya seperti kasar, biadap atau bahasa yang tidak bersopan, tetapi inilah kenyataan dan inilah sebenarnya ilmu makrifat dan inilah cara kita bersyahadah yang sebenar-benar syahadah!. Selagi tidak binasa, tidaklah ia bersyahadah, melainkan sekadar angan-angan atau melainkan hanya sekadar hayalan atau mainan akal atau dalam bahasa orang sekarang menyebut dengan perkataan “syok sendiri”.

Bersaksi itu, bilamana ada dua sifat wujud. Iaitu bilamana wujud aku dan wujud Dia!. Setelah wujud diri yang bersifat majazi itu lebur, mana ada lagi wujud yang lain selain wujud hakiki (iaituAllah s.w.t)!. Maka yang lain akan dengan sendirinya menjadi lebur musnah, bilamana penglihatan mata hati terpandang akan wujudnya Allah s.w.t!.

Erti wujud itu, bermaksud ada. Sifat ada itu, adalah hanya bagi Allah s.w.t. Makhluk itu, adalah bersifat dengan sifat binasa!.  Setelah makhluk bersifat binasa, mana ada lagi wujudnya makhluk. Setelah tidak wujudnya makhluk, di situlah baru timbulnya sebenar-benar yang dikatakan Allah s.w.t itu wujud dengan sendiri. Tidak berkongsi wujudnya Allah s.w.t itu, dengan wujud yang lain selain dari Dia.

Bilamana sampainya kita kepada tahap itu, barulah boleh dikatakan bahawa saksi itu Dia, yang bersaksi itu Dia dan yang menyaksi pun Dia. Dialah seDia-Dianya. Allahlah seAllah-Allahnya Allah!. Tidak adalah yang wujud, yang ujud dan yang maujud di alam ini, selain Allah. Allah itulah Allah, Allah, Allah……………..

Inilah syahadah yang sebenar-benar syahadah, pengakuan yang sebenar-benar pengakuan dan tauhid yang sebenar-benar tauhid!. Pengakuan yang bukan sahaja putus setakat di bibir mulut, tetapi pengakuan yang beserta dengan tasdik hati yang ikhlas, jujur dan benar!.  Yang boleh dikatakan tasdik hati (pengakuan hati) yang ikhlas, benar dan jujur itu, adalah setelah kita campakkan garam ke dalam sifat masin. Campakkan diri kedalam lautan fana’ dan baqa’ Allah.


 


Apa Makna Dan Apa Gunanya Kita Naik Saksi, Jikalau Tidak Mengenal Siapa Saksi Dan Siapa Yang Meyaksi? (apa guna bersaksi, jika tidak mengenal Allah)!.

 Sekiranya anda masih tidak faham apa itu maksud saksi dan apa itu maksud yang menyaksi, mari ikut saya. Saya bawa anda masuk sekejap ke dalam mahkamah!. Saya mahu anda menjadi seorang saksi dalam satu kes rompakan bersenjata yang mendatangkan kematian. Secara kebetulan, anda melihat dan menyaksikan rompakan tersebut dengan mata kepala sendiri. Sebagai saksi, tuan hakim meminta anda mengenal pasti pelaku yang melakukan rompakan.

Hakim mengumpulkan beberapa orang suspek untuk anda kenal pasti, yang mana satukah perompak yang benar-benar melakukan rompakan tersebut. Cuba tuan-tuan jawab soalan saya, bagaimana sekiranya anda tidak dapat cam atau tidak dapat untuk mengenal pasti pelaku yang melakukan rompakan tersebut. Bolehkan anda disebut atau dipanggil sebagai seorang saksi?. Sebagai seorang saksi itu, hendaklah mengenal orang yang disaksikannya!.

Begitu juga halnya dalam soal kita berkalimah syahadah.  Kita mengaku untuk naik saksi bahawasanya tidak ada Allah lain selain Allah!. Cuba tuan-tuan jawab pertanyaan saya, bila masanya anda mengenali Allah s.w.t?.  Bila masanya anda pernah melihat Allah s.w.t?. Sekiranya anda belum pernah melihat Allah dan belum pun pernah mengenal Allah, bagaimana anda hendak menjadikan diri anda itu sebagai seorang saksi, sekiranya anda sendiri belum pernah menyaksikannya.

Seorang saksi yang belum pernah dipersaksikan (belum pernah diperlihatkan), mana mungkin dapat menjadi saksi bagi menyaksikan suatu kesaksian?. Cuba jawab, cuba jawab dan cuba jawab dengan hati yang jujur?.  Boleh atau tidak?. Jika jawapannya memihak kepada tidak, bagaimana kesaksian anda terhadap kalimah syahadah yang anda sendiri sebut dan yang anda sendiri lafazkan?. Tidakkah itu satu pembohongan atau satu penipuan?. Anda adalah seorang makhluk pendusta!.

Dusta pada Allah s.w.t, dusta pada pandangan masyarakat dan dusta juga kepada diri sendiri!. Apakah ertinya tuan-tuan dan puan-puan sebagai hamba Allah s.w.t yang berpaksi kepada kalimah syahadah?. Cuba jawab kepada diri sendiri!.