Laila Majnun : Kekasih Dan Pecinta Sekarang saya akan mendefinisikan
cinta dengan kisah Laila Majnun. Mungkin cinta bisa dipahami lebih
konkret lagi lewat cerita Hakim Nizhami ini. Alkisah, pada zaman dahulu,
dari suku Bani Amir, salah satu suku di jazirah Arabia, ada satu
pasangan keluarga yang tidak dianugerahi anak. Mereka mendatangi
berbagai tabib, agar mendapatkan keturunan. Singkat cerita, akhirnya
Tuhan menganugerahkan anak kepada mereka. Anak itu sangat tampan,
dicintai oleh setiap orang. Matanya coklat, rambutnya hitam. Ia diberi
nama Qais. Seperti kebiasaan suku-suku pada zaman itu, anak itu dikirim
ke sekolah khusus bangsawan. Di sekolah khusus itu juga masuk juga anak
kepala suku yang lain. Ia seorang perempuan cantik jelita. Rambutnya
hitam legam. Matanya pun hitam, sehitam malam hari. Sebab itulah ia
digelari Laila. Laila dan Qais menjadi teman sekelas. Sejak pertemuan
mereka yang pertama, mereka saling tertarik satu sama lain. Dalam
perjalanan waktu, api cinta itu timbul, makin menyala. Dan sekarang,
bagi mereka, sekolah bukan lagi untuk belajar melainkan mahall al-liqa,
tempat pertemuan mereka berdua. Ketika guru sedang memberikan kuliah,
mereka saling memandang. Ketika ada waktu untuk menulis pelajaran,
masing-masing mereka menuliskan nama kekasihnya. Tidak ada orang lain.
Seluruh dunia ini seakan-akan hilang. Dan seakan-akan dunia ini hanya
didiami mereka berdua. Mereka tuli untuk mendengar suara yang lain,
selain suara kekasihnya. Akhirnya orang-orang tahu bahwa di antara
mereka berdua ada kisah cinta. Mulailah orang- orang membicarakan
mereka, sehingga akhirnya pembicaraan itu sampai ke telinga orang tua
Laila. Orang tua Laila beranggapan bahwa cinta yang ditampakkan oleh
putrinya itu merupakan kejahatan, menodai kehormatannya sebagai kepala
suku. Lalu orang tua Laila datang ke sekolah, meminta agar Laila
dikeluarkan. Akhimya Laila tidak pernah lagi datang ke sekolah. Begitu
Laila "hilang" (dalam tasawuf ada sebuah maqam yang disebut absence,
ketidakhadiran. Maqam ini merupakan siksaan yang paling besar bagi
seorang pecinta, yakni ketika sang kekasih tak lagi hadir), berubahlah
tingkah laku Qais. Mengetahui Laila tak lagi datang ke sekolah, ia pun
akhimya meninggalkan sekolah. la me ngembara di jalan-jalan,
menyebut-nyebut nama Laila. la berjalan terseok-seok: la menulis puisi
untuk Laila, dan membacakannya sepanjang perjalanannya. la tidak
berbicara apa pun kecuali tentang Laila. Ketika orang lain mengajaknya
berbicara, ia tidak pernah menjawabnya kecuali kalau orang itu
membicarakan Laila. Tingkah seperti itu membuat orang- orang
mentertawakan Qais, bahkan menyebutnya gila. Sejak itulah nama Qais
hilang, digantikan dengan nama Majnun (Orang Gila). Karena banyak orang
mengganggunya, mengalihkan perhatiannya dari Laila, maka Majnun
memutuskan untuk meninggalkan masyarakat sama sekali. la tinggalkan
kampung halamannya, orang tuanya, dan sahabat-sahabatnya. la pergi ke
sebuah puncak bukit di dekat desa Laila. Di bukit itu ia bangun sebuah
gubuk. Dan lewat jendela kecil gubuk itu ia pandangi rumah Laila.
Sepanjang hari Majnun duduk di depan gubuknya. Di dekat selokan kecil
yang mengalir ke rumah Laila, setiap hari ia petik sekuntum bunga. la
alirkan bunga itu lewat selokan, dengan harapan di seberang sana Laila
menangkap pesan kecintaannya. la berbicara, kepada burung- burung,
meminta mereka untuk terbang ke rumah Laila dan mengatakan kepadanya
bahwa Majnun tidak jauh darinya. Ketika angin bertiup dari rumah Laila
ke bukit itu, ia hirup angin itu dengan hirupan yang panjang, karena
angin itu berasal dari kampung Laila. Kalau ada anjing yang tersesat
datang dari kampung Laila, ia pelihara anjing itu baik-baik. la rawat
dan cintai anjing itu layaknya binatang suci sampai anjing itu
meninggalkannya. Apa saja yang datang dari tempat sang kekasih, ia
cintai dan sayangi, sama seperti cintanya kepada sang kekasih itu
sendiri Bulan berlalu dan Majnun tidak melihat sedikitpun jejak-jejak
Laila. Kerinduannya makin bertambah. Ia mulai merasa bahwa ia takan
hidup lagi, tanpa sempat melihat wajah Laila Kawan-kawannya mendengar
penderitaan Majnun. Suatu saat mereka dating dan membuat rencana untuk
mempertemukan Majnun dan Laila. Rencananya sangat bagus. Kawan-kawannya
semua menyamar sebagai perempuan, dan berkunjung ke rumah Laila. Kita
belum bercerita tentang Laila. Sejak meninggalkan sekolah, Laila tidak
berbuat apapun kecuali menyebut nama Qais. Dan aneh, setiap kali ia
mendengar burung berkicau di dekat rumahnya, ia mendengar suara Majnun.
Ia juga sering melihat bunga-bunga hutan yang dialirkan lewat selokan.
Dan ia merasakan seakan-akan bunga- bunga itu adalah surat yang
dikirimkan oleh Qais. Ia tidak pernah membicarakan Qais kepada siapapun,
bahkan kepada teman terdekatnya sekalipun. Jadi, kalau kecintaan Majnun
diumumkan kepada semua orang maka kecintaan Laila disembunyikan
dalam-dalam di hatinya. Ia sembunyikan baik- baik. Dan ia tidak ingin
siapa pun mendengar jeritan cintanya. Pada suatu hari, Majnun diantarkan
oleh kawan- kawannya mendatangi kamar Laila, dengan menyamar sebagai
perempuan. Kawan- kawannya menjaga di luar. Dan entah bagaimana Laila
pun merasakan bahwa pada hari itu akan ada kunjungan Qais. Karnanya ia
segera berhias dengan hiasan yang luar biasa. Laila menunggu di depan
pintu. Ketika Majnun masuk, Laila terpukau diam, seakan-akan tak percaya
bahwa Majnun betul-betul datang untuknya. Majnun berdiri di pintu untuk
beberapa detik, mereguk kenikmatan kerinduan yang sudah sekian lama. la
tidak berkata apa-apa. Pada akhimya mereka berduaan, nothing could be
heard. Tidak ada yang kedengaran, kecuali suara detak jantung sang
kekasih. Mereka saling memandang satu sama lain. Tidak sadar terhadap
berlalunya waktu. Pada saat yang sama, salah seorang pembantu di rumah
itu memperhatikan ada perempuan dikenal berdiri mematung di depan kamar
itu. Segera ia mencurigainya. Singkatnya cerita, pemilik rumah
diberitahu, dan akhirnya pertemuan itu dibubarkan. Sekarang ayah Majnun
yang kebingungan oleh perilaku anaknya, apalagi sudah digelari Majnun,
si Orang Gila. Ia berpikir, semestinya Qais dikawinkan saja agar
kegilaannya hilang. Lalu ia datang melamar Laila. Sebagai kepala suku
terhormat, ia berkata kepada ayah Laila : “saya fikir ada dua hal yang
menentukan kebahagiaan, yaitu anak dan kekayaan. Anak saya sangat
mencintai anak anda, dan kekayaan saya akan saya berikan kepadanya. Ayah
Laila menjawab : “saya tidak keberatan anak saya menikah dengan Qais.
Saya tahu dia anak mulia. Tapi setiap orang tahu bahwa dia anak gila. Ia
berpakaian seperti pengemis. Mungkin ia sudah tidak mandi selama
berabad-abad. Ia hidup bersama binatang, dan menjauhi orang banyak.
Katakan padaku, sahabat, kalau engkau mempunyai seorang gadis sepertiku,
maukah engkau mengawinkan dia dengan orang gila seperti anakmu.
Alhasil, lamaran itu ditolak. Namun orang tuanya tetap berpikir
bagaimana menyembuhkan kegilaan Qais. Lalu ia berfikir, mungkin
penyakitnya itu akan sembuh dengan pergi haji. Dibawalah Qais untuk
pergi haji. Di Baitullah Majnun' berdoa sambil menangis, "Duhai Yang
Paling Terkasih, Raja dari segala raja. Engkaulah yang menurunkan rasa
cinta, Saya hanya memohon satu hal saja kepadaMu. Angkatlah cinta saya
setinggi-tingginya, sehingga sekiranya saya binasa sekalipun dan kekasih
saya tetap abadi." Mendengar doa itu, bapaknya jatuh pingsan. Alih-alih
sembuh, malah kegilaan anaknya parah. Setelah naik haji, Majnun tinggal
di sebuah reruntuhan rumah. Rambutnya panjang. la hidup dengan
binatang. la nyanyikan kecintaannya kepada binatang- binatang itu. Dari
kecintaannya kepada Laila ia mencintai seluruh binatang yang ada di
rimba raya itu. Sampai tidurpun ia bersama binatang buas. Binatang
buaspun bisa dilunakkan oleh hati yang dipenuhi cinta. singkat cerita,
Laila dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang kaya raya. Ibn Salam
namanya. Tapi Laila mengatakan kepadanya bahwa ia tidak bisa menyentuh
karena jiwanya tidak terletak di situ. Sekali lagi Laila tidak pernah
menceritakan kecintaannya kepada Qais. Ia sembunyikan dalam hatinya. Dan
suaminya tidak mau mengganggunya. la tidak ingin memperolehnya dengan
paksa. la berharap bahwa suatu saat Laila akan give in juga. karena
berita pernikahan Laila sampai kepada Majnun, ia menangis sepanjang
hari. la menyanyikan lagu-lagu yang begitu mengharukan. Sehingga
binatang-binatang pun menangis mendengamya. la terus menerus tinggal di
reruntuhan rumah itu. Perasaannya kepada Laila tidak pernah berubah.
Bahkan cintanya makin bertambah. Kemudian Majnun mengirim surat ucapan
selamat kepada Laila. "Semoga kebahagiaan di seluruh alam semesta
diberikan kepada anda. Saya tidak meminta apa pun sebagai tanda
kecintaanmu. Saya hanya minta satu hal saja. Yaitu, hendaknya engkau
selalu mengingat namaku, walaupun engkau sudah memilih yang lain sebagai
teman dekatmu. Jangan lupakan bahwa ada seseorang di tempat lain yang
sekiranya tubuhnya disobek-sobek sekalipun ia akan tetap menyebut
namamu, LAILA..." Sebagai jawaban, Laila mengirimkan satu anting-
antingnya sebagai tanda kecintaanya. Dalam suratnya Laila menulis, "Saya
tidak pernah ingat satu saat pun dalam hidup saya, yang kosong dari
mengingatmu. Saya sudah menyimpan kecintaan saya dalam batin saya begitu
lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapa pun. Sementara engkau
teriakkan kecintaanmu kepada seluruh dunia. Aku simpan nyala api cintaku
jauh di dalam hati, padahal engkau bakar seluruh tempat dengan api
cintamu Saya sekarang menghabiskan waktu saya dengan seseorang padahal
jiwa saya sepenuhnya diberikan kepada yang lain. Katakan kepadaku, wahai
kekasihku, siapakah yang paling gila di antara kita dalam bercinta: kau
atau aku?".
Singkat cerita lagi, Laila menderita kecintaan dan kerinduan yang tidak tertanggungkan. Akhirnya ia menderita batuk yang tid
Hingga sampai kepada bulan sepuluh, hati Qais yang rapuh
akhirnya runtuh bergemuruh. Hanya tersisa asa nan menghembus pupus
menggenggam setangkai cinta yang tulus tak putus. Di sudut lirik lentik
mata Laila, puing-puing jiwa Qais mengerti. Laila tak mungkin lagi
menanti puisi-puisi anggun di bisik-bisik padang gurun.
"Semua pria mengaku merengkuh jemari Laila. Namun Laila tak mengaku
itu. Kecuali pada Qais Ibnu Al Mulawwah Ibnu Muzahim saja.", Qais lirih
bersenandung mengharu biru. Namun kini Qais tak pernah tahu itu.
Laila Binti Mahdi Ibnu Sa'd, putri ayu Bani Amir itu diberi nama.
Lail berarti sang malam. Karena sepertinya Tuhan hendak melukis malam
pada penyejuk mata Bani Amir.
Rambut Laila yang mengombak panjang menggelung pekat hitam bagai
langit malam. Namun parasnya berpendar cahaya serupa purnama yang
tersipu malu-malu. Dan semua orang tahu bila Laila mau, binar matanya
yang bening sekali mengerling, mampu menggulung dunia menjadi
keping-keping.
Celakanya Qais salah satu yang terkena panah-panah asmara yang dilepaskan dari sudut mata itu.
Berawal dari sebuah ruang madrasah. Dunia Qais menjadi nafas nan
sesak penuh keluh kesah. Semenjak tatap Qais tak sengaja beradu pandang
dengan bola mata Laila, Qais bagai menghirup wangi kuntum-kuntum candu
yang berwarna merah jambu. Qais jatuh hati lebam-lebam dicambuk rindu.
Hingga datang suatu hari si Ibnu Salam. Lelaki tanpa salam yang
meminang perawan dalam pingitan. Adalah Ibnu Salam si pemetik rembulan
satu satunya dan yang pertama. Membuat cinta Qais tidak lagi merah jambu
penuh rona. Melainkan semerah darah sebening air mata.
Pedih merintih menahan perih. Qais teriris iris oleh rinai gerimis
yang menangis. Namun tetap Qais memilih rindu daripada cemburu. Dan
kisah-kisah mulai mengurai tentang kasih-kasih tak sampai. Duhai Qais
remaja paling rupawan di seluruh semenanjung jazirah Arabia kini menjadi
majnun-penyair gila! Menderas ayat ayat cinta untuk dan hanya untuk
Laila.
Rindu Qais adalah rindu yang sederhana. Rindu yang bertiupan di
antara semilir desir angin padang pasir. Beterbangan dengan sayap sayap
imaji yang berkepak sajak menuju yang dicinta. Perlahan menerbangkan
kerudung Laila dengan sengaja. Hingga terpa menyisir lembut rambut
sempurna. Membelai helai demi helai tanpa sempat berkata-kata. Hanya
sebatas menggoyang alang-alang ilalang. Hingga tangkai-tangkai bunga
menjatuhkan kelopak demi kelopak Rosela.
Cinta Qais adalah cinta yang bersahaja. Isyarat maknawi yang
mengelana di lembah maya. Mengembara pada aksara yang tak sempat
mengeja. Dari satu kabilah ke kabilah yang lain. Dari satu kafilah ke
kafilah yang lain. Di senyap bumi yang tandus fatwa cinta Qais
menghunus. Di selasar kota-kota lorong-lorongnya Qais tak akan berjalan
melainkan meninggalkan kecup mesra pada tiap dinding-dindingnya.
"Aku berjalan pada setapak jalan-jalan dari jalan-jalannya Laila
dan menyusuri dinding-dinding purinya yang berbatu. Aku menciumi dinding
ini dan dinding itu penuh hasrat rindu. Bukan karena puri itu merenggut
hatiku penuh dengan cinta. Melainkan putri ayu yang terpenjara di dalam
menara istananya." Qais lirih bersenandung mengharu biru. Namun kini
mungkin Laila tak pernah tahu itu.
Qais hanyalah seorang Qais yang remuk dalam peluk samsara Laila.
Bukan guru Rumi sang sufi yang menari-nari dimabuk asmara Tuhannya. Jika
Rumi tenggelam pada baris baris mastnawi selaksa tafsir. Qais hanya
larut dalam tuangan secangkir syair. Karena puisi hanya untuk
orang-orang yang jatuh hati. Tidak untuk yang putus cinta. Dan puisi
terbaik lahir dari rahim rindu yang bersipayah. Bukan dari jiwa-jiwa
yang kalah dan patah.
tak pernah bisadisembuhkan. Laila meninggal dunia. Menjelang akhir
hayatnya ia sempat memandang ke pintu tempat Majnun pernah datang ke
kamarnya setalah dia menyadari bahwa malaikat maut akan menjemput
.laila,untuk terakhir kali nya,meminta ibu nya agar jika ia mati nanti
memakaikan baju pengantin berwarna merah darah sebagai lambang syuhada
cinta dan cadar dari tanah yang tak akan lepas lagi.selain itu laila
meminta dirias secantik mungkin.laila meminta ibunya mewarnai kelopak
matanya dengan debu dari bawah telapak kaki kekasih nya,menggunakan air
mata kekasih untuk memandikan nya,serta menggunakan kesedihan kekasihnya
sebagai wewangiannya.''lalu aku akan menunggu .aku akan menunggu hingga
ia datang,karena dia pasti datang.pengelana yang resah,pengembara cinta
yang abadi itu akan menemukan jalan menuju makam ku dan disana ia akan
bersimpuh dan memohon padaku untuk menunjukkan diri.namun cadar dari
tanah itu tidak akan terangkat,maka yang bisa dia lakukan hanyalah
menangis tersedu-sedu.tenangkan dia,ibu,karena dia adalah sahabat
sejatiku.perlakukan dia dengan baik dan berikan dia kasih
sayang,seakan-akan dia adalah anak mu sendiri.. Dan... ia pun
menghembuskan nafasnya yang terakhir. Diam-diam ia menggumamkan kata
MAJNUN... Berita tentang kematian Laila menyebar, dan sampai juga ke
telinga Majnun. Mendengar berita itu, Majnun pun jatuh pingsan. Beberapa
hari ia tak sadarkan diri. Saat sadar, dengan tertatih-tatih ia datang
ke kuburan Laila. Di situ ia menangis berhari-hari sampai akhimya Tuhan
mengambil nyawanya. Tubuh Majnun tergeletak di situ selama setahun.
Tidak ada orang yang tahu. Sampai ketika diadakan haul Laila,
orang-orang datang ke kuburan, dan menemukan mayat Majnun di atas pusara
Laila. Kemudian mayat Majnun dikuburkan bersama dalam satu kubur, di
tempat yang sama. Di tempat yang abadi itulah keduanya bertemu. Sebagai
akhir cerita, adaseorang sufi bermimpi melihat Majnun berada di samping
Tuhan, dan Tuhan membelai-belai kepala Maj nun dengan penuh kecintaan
dan kasih sayang. Majnun disuruh duduk di samping Tuhan, ke mudian
Tuhan berkata kepada Majnun, "Tidakkah engkau malu memanggil Aku dengan
nama Laila setelah kauteguk anggur cinta- Ku?" Sufi itu terbangun dalam
keadaan melihat posisi Majnun. Lalu dimana posisi Laila? Tuhan kemudian
mengilhamkan ke dalam hatinya, bahwa posisi Laila lebih tinggi lagi,
karena Laila menyembunyikan cintanya dalam hatinya.Kaum Sufi menganggap
Majnun dan Laila adalah kisah kecintaan seorang pecinta dengan Tuhannya,
kekasihnya Laila adalah Tuhan, yang tersembunyi. Sementara Majnun
adalah pecinta. Belajar Cinta dari Majnun Dalam tingkah laku Majnun
itulah cinta didefinisikan dengan sangat konkret. Misalnya Majnun
mencintai apa saja yang datang dari kekasihnya. Angin, bahkan anjing pun
ia cintai, karena anjing itu berasal dari tempat kekasihnya. Dan tidak
ada kenik matan yang paling besar kecuali menyebut-nyebut nama
kekasihnya. Bagi Majnun, tidak ada yang paling nikmat kecuali menyebut
nama Laila. Orang yang sudah mencintai Tuhan, seperti majnun, mungkin
akan dianggap gila oleh orang-orang. Salah satu dalil mengapa kita boleh
kuburan Rasulullah bisa kita jelaskan dari syair Majnun. Majnun membuat
puisi-puisi kerinduannya kepada Laila. Dalam salah satu puisinya Majnun
berkata: “Kucium dinding itu,bukan dinding itu tetapi karena
kecintaanku kepada dia yang berada di balik dinding itu. " Kalau kita
mencintai seseorang, maka seperti Majnun, kita akan menyukai apa saja
yang dari orang itu. Seperti pembicaraannya, atau pembicaraannya. Karena
itu, salah satu cara untuk untuk memperkuat kecintaan kepada Allah
ialah kita harus banyak membaca dan mempelajari AIQuran. Itu syarat
pertama. Kita tidak bisa mencintai dia kecuali lewat sesuatu yang datang
dariNya.Dan Al-Quran adalah kalam Allah yang datang dari- Nya. Dalam
sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: "Inna hddza alqur'an
ma'dubatbatullah fa ta'allamuu ma'dubatah”. Sesungguhnya AI-Quran ini
adalah hidangan (yang diberikan oleh) Allah. Maka pelajarilah hidangan
itu semampu kamu. AI-ma'dubah adalah makanan yang dihidangkan oleh
seseorang sebagai penghormatan kepada tamunya: makanan khusus yang
diberikan kepada seseorang yang kita sukai. AI-Quran adalah
ma'dubatullah. Para pecinta yang ingin menikmati kerinduannya kepada
Allah SWT, akan membaca Al-Quran, atau mereka menyuruh orang lain untuk
membacakannya. Rasulullah SAW juga sering menyuruh orang untuk membaca
AI-Quran untuknya. Seorang sahabat berkata: "Ya Rasulullah, kausuruh aku
membaca Al-Quran padahal ia diturunkan kepadamu." Nabi bersabda: "Aku
ingin mendengar kannya dari yang lain." Ketika sahabat itu membacakan
AlQuran, Rasulullah SAW menangis tensak-isak Sahabat itu menghentikan
bacaannya. karena mendengar Rasulullah menangis. Tapi Rasulullah
menyuruhnya meneruskan bacaan Itulah tangisan kerinduan. Ada belasan
munajat yang disampaikan oleh imam Ali Zainal Abidin yang isinya, kalau
anda perhatikan, merupakan bisikan- bisikan mesra dari seorang pecinta
kepada Kekasihnya. Saya akan bacakan salah satu munajat penempuh
thariqat (munajat al-muridin). Saya meng gambarkannya sebagai contoh
bahwa doa ini adalah berupa munajat, bisikan. "Aku memohon kepada-Mu,
jadikan daku yang paling banyak mendapat karunia-Mu; yang paling tinggi
kedudukannya di sisi-Mu; yang paling besar bagiannya dari cinta-Mu; yang
paling utama memperoleh ma'rifat-Mu; untuk-Mu saja tercurah
keinginan-Ku;kepada- Mu jua terpusat hasratku; hanya Engkaulah tempat
kedambaanku, tidak ada yang lain;karena engkau sajalah aku tegak
terjaga, tidak karena yang lain;Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku;
pertemuan dengan-Mu kecintaan diri-Ku; kepada-Mu kedambaanku, kepada
cinta-Mu tujuanku; pada kasih-Mu gelora cinta-Ku; ridha- Mu
tujuanku;melihat-Mu keperluanku; mendampingi-Mu keinginanku;
mendekati-Mu puncak permohonanku;dalam menyeru-Mu ada damai dan
tentramku; di sisi-Mu penawar deritaku, penyembuh lukaku,penyejuk
dukaku, pengobat pedihku. " Doa-doa seperti ini disebut munajat,
whispers. Tapi itu bukan berarti kita tidak boleh berdzikir keras. Ada
saat-saat ketika ketika harus berdzikir dengan keras, tapi bukan ketika
kita mengungkapkan cinta kepada Allah. Misalnya dalam peperangan, kita
dianjurkan untuk berdzikir dengan keras. Karena Tuhan adalah Zat Yang
Mahasuci, dan hanya bisa didekati oleh orang-orang suci, maka ketika
seseorang hendak kembali kepada Dia, maka ia harus berada dalam keadaan
suci. Karena itu, kata "kembali" dan "bersuci" dalam AI-Quran
didekatkan. "lnnallah yuhibb al- tawwaabiin wa yuhibb al-
mutathahhirin." Tuhan mencintai orang yang terus menerus kembali clan
mencintai orang- orang yang membersihkan diri. Sebab itu pula, salah
satu riyadhah untuk memperoleh kecintaan Allah ialah memelihara wudhu
kita. Dalam sebuah hadis qudsi Allah SWT berfirman, "Siapa yang hadats
dan tidak berwudhu, ia sudah meninggalkan-Ku. Siapa yang berwudhu tetapi
ia tidak sholat dua rakaat ia juga sudah melalaikan-Ku; siapa yang
salat dua rakaat tapi tidak berdoaia juga telah mengabaikan-Ku; Siapa
yang hadast berwudhu, dan salat dua rakaat kemudian berdoa kepada-Ku,
kemudian aku tidak memperkenankan doanya, baik urusan agama maupun
dunia, berarti Aku sudah meninggalkan dan. Dan aku bukanlah Tuhan yang
suka meninggalkan kekasihnya." Saya membaca tulisan Hassan Zadeh Amuli:
"Ketahuilah wahai pembaca tersayang Sesungguhnya wudhu adalah cahaya.
Selalu berada dalam keadaan suci adalah alat agar engkau naik menuju
alam yang suci, inilah aturan yang agung , yang diajarkan oleh agama
kita. Kemudian jika engkau selesai salat, sujud dan bacalah doa pada
waktu sujud Allahumma urzuqnii halaawah al dzikr wa liqaa 'ik wa
al-hudhuur’indak. Ya Allah anugrahkanlah kepadaku manisnya menyebut
namaMu, indahnya pertemuan denganMu dan hadir dihadapan-Mu." Berdasarkan
QS Al-A’raf 7:31 disebutkan bahwa Allah tidak menyukai orang yang
berlebih- lebihan dalam makan dan minum Karena itu, kalau kita ingin
memperoleh cinta Tuhan, dan belajar mencintai-Nya kita harus menghindari
hal-hal yang tidak disukai oleh kekasihnya, dan akan menyukai apa saja
yang yang disukai olehnya. Dalam kisah Laila Majnun yang lengkap
diceritakan bahwa Laila mempunyai sekawanan kambing. Kambing-kambing itu
dibiarkan merumput di lapangan. Majnun memeluk kambing-kambing itu
dengan pelukan mesra Karena kambing itu kepunyaan Laila. Sampai Majnun
iri hati kepada kambing tersebut karena mereka bisa berjumpa dengan
Laila sementara dirinya tidak. Hingga akhirnya, entah mendapatkan ilham
dari mana, kemudian Majnun menyamar jadi kambing. Ia mau menjadi kambing
sekalipun, asal bisa menatap wajah Laila. la mau meletakkan dirinya
dalam keadaan hina sekalipun, asal ia bisa memandang wajah Laila. Imam
Khomeini berkata : “Ibadah yang sebenarnya tidak akan bisa dicapai
kecuali dengan menyadari izzah rubuubiyyah.” Maksudnya ibadah seperti
tidak bisa diperoleh sebelum kita merasakan kemuliaan Tuhan dan kehinaan
diri kita. Dalam QS Al A’raf itu disebutkan, "Makan dan minumlah. Dan
jangan berlebih-lebihan.. Sesungguhnya Allah tidak orang-orang yang
berlebih-lebihan." Sesungguhnya Allah tidak menyukai yang
berlebih-lebihan.” Oleh karena itu, ketahuilah, wahai kekasih, usahkan
agar ngkau mengurangi makan dan minum, jika engkau mau belajar mencintai
Allah SWT. Jika seseorang banyak makan dan minum, hatinya akan keras,
matanya akan jumud (beku). Mata yang jumud artinya mata yang sukar
meneteskan air mata. Orang yang kenikmatannya hanya makan dan minum
saja, ruhnya di alam ruhani yang berbentuk babi (khinzir). Jadi, puasa
adalah latihan untuk mencintai Allah SWT. Rasulullah pernah berkata
kepada Aisyah, "Hai Aisyah rajin-rajinlah mengetuk pintu surga!"
Bagaimana kami harus mengetuk pintu surga'?", tanya Aisyah. "Dengan
lapar dan dahaga," jawab Rasulullah. Kita berharap agar pintu surga
dibukakan untuk Kita. Kita adalah Majnun yang mengetuk pintu rumah Laila
dengan lapar dan dahaga. Sayang sekali, kecintaan Tuhan itu tersembunyi
dari kita. Kita tidak mengetahui kecintaan Tuhan kepada kita. Jadi,
kita tidak tahu apakah pintu itu sudah dibukakan untuk kita atau belum.
Tapi Al Quran memberitahukan kepada kita, bahwa terbukanya pintu. Yaitu,
"Hai jiwa yang tentram, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan
ridha dan diridhai." Yakni dalam keadaan cinta dan dicintai. Ridha
adalah salah satu bagian dari cinta. Dengan demikian, salah satu tanda
terbukanya pintu surga untuk kita adalah jiwa yang tenteram. Jika jiwa
kita sudah merasa tenteram, itu pertanda bahwa pintu syurga terbuka.*
(Ditranskrip dari uraian Ust. Jalal dalam Paket Tasawuf Cinta yang
diselenggarakan oleh Yayasan Muthahhari 11-16 Ramadhan 1417/25 Januari
1997)
No comments:
Post a Comment