Wednesday, 31 August 2016

kisah cinta abadi laila majnun

Laila Majnun : Kekasih Dan Pecinta Sekarang saya akan mendefinisikan cinta dengan kisah Laila Majnun. Mungkin cinta bisa dipahami lebih konkret lagi lewat cerita Hakim Nizhami ini. Alkisah, pada zaman dahulu, dari suku Bani Amir, salah satu suku di jazirah Arabia, ada satu pasangan keluarga yang tidak dianugerahi anak. Mereka mendatangi berbagai tabib, agar mendapatkan keturunan. Singkat cerita, akhirnya Tuhan menganugerahkan anak kepada mereka. Anak itu sangat tampan, dicintai oleh setiap orang. Matanya coklat, rambutnya hitam. Ia diberi nama Qais. Seperti kebiasaan suku-suku pada zaman itu, anak itu dikirim ke sekolah khusus bangsawan. Di sekolah khusus itu juga masuk juga anak kepala suku yang lain. Ia seorang perempuan cantik jelita. Rambutnya hitam legam. Matanya pun hitam, sehitam malam hari. Sebab itulah ia digelari Laila. Laila dan Qais menjadi teman sekelas. Sejak pertemuan mereka yang pertama, mereka saling tertarik satu sama lain. Dalam perjalanan waktu, api cinta itu timbul, makin menyala. Dan sekarang, bagi mereka, sekolah bukan lagi untuk belajar melainkan mahall al-liqa, tempat pertemuan mereka berdua. Ketika guru sedang memberikan kuliah, mereka saling memandang. Ketika ada waktu untuk menulis pelajaran, masing-masing mereka menuliskan nama kekasihnya. Tidak ada orang lain. Seluruh dunia ini seakan-akan hilang. Dan seakan-akan dunia ini hanya didiami mereka berdua. Mereka tuli untuk mendengar suara yang lain, selain suara kekasihnya. Akhirnya orang-orang tahu bahwa di antara mereka berdua ada kisah cinta. Mulailah orang- orang membicarakan mereka, sehingga akhirnya pembicaraan itu sampai ke telinga orang tua Laila. Orang tua Laila beranggapan bahwa cinta yang ditampakkan oleh putrinya itu merupakan kejahatan, menodai kehormatannya sebagai kepala suku. Lalu orang tua Laila datang ke sekolah, meminta agar Laila dikeluarkan. Akhimya Laila tidak pernah lagi datang ke sekolah. Begitu Laila "hilang" (dalam tasawuf ada sebuah maqam yang disebut absence, ketidakhadiran. Maqam ini merupakan siksaan yang paling besar bagi seorang pecinta, yakni ketika sang kekasih tak lagi hadir), berubahlah tingkah laku Qais. Mengetahui Laila tak lagi datang ke sekolah, ia pun akhimya meninggalkan sekolah. la me­ ngembara di jalan-jalan, menyebut-nyebut nama Laila. la berjalan terseok-seok: la menulis puisi untuk Laila, dan membacakannya sepanjang perjalanannya. la tidak berbicara apa pun kecuali tentang Laila. Ketika orang lain mengajaknya berbicara, ia tidak pernah menjawabnya kecuali kalau orang itu membicarakan Laila. Tingkah seperti itu membuat orang- orang mentertawakan Qais, bahkan menyebutnya gila. Sejak itulah nama Qais hilang, digantikan dengan nama Majnun (Orang Gila). Karena banyak orang mengganggunya, mengalihkan perhatiannya dari Laila, maka Majnun memutuskan untuk meninggalkan masyarakat sama sekali. la tinggalkan kampung halamannya, orang tuanya, dan sahabat-sahabatnya. la pergi ke sebuah puncak bukit di dekat desa Laila. Di bukit itu ia bangun sebuah gubuk. Dan lewat jendela kecil gubuk itu ia pandangi rumah Laila. Sepanjang hari Majnun duduk di depan gubuknya. Di dekat selokan kecil yang mengalir ke rumah Laila, setiap hari ia petik sekuntum bunga. la alirkan bunga itu lewat selokan, dengan harapan di seberang sana Laila menangkap pesan kecintaannya. la berbicara, kepada burung- burung, meminta mereka untuk terbang ke rumah Laila dan mengatakan kepadanya bahwa Majnun tidak jauh darinya. Ketika angin bertiup dari rumah Laila ke bukit itu, ia hirup angin itu dengan hirupan yang panjang, karena angin itu berasal dari kampung Laila. Kalau ada anjing yang tersesat datang dari kampung Laila, ia pelihara anjing itu baik-baik. la rawat dan cintai anjing itu layaknya binatang suci sampai anjing itu meninggalkannya. Apa saja yang datang dari tempat sang kekasih, ia cintai dan sayangi, sama seperti cintanya kepada sang kekasih itu sendiri Bulan berlalu dan Majnun tidak melihat sedikitpun jejak-jejak Laila. Kerinduannya makin bertambah. Ia mulai merasa bahwa ia takan hidup lagi, tanpa sempat melihat wajah Laila Kawan-kawannya mendengar penderitaan Majnun. Suatu saat mereka dating dan membuat rencana untuk mempertemukan Majnun dan Laila. Rencananya sangat bagus. Kawan-kawannya semua menyamar sebagai perempuan, dan berkunjung ke rumah Laila. Kita belum bercerita tentang Laila. Sejak meninggalkan sekolah, Laila tidak berbuat apapun kecuali menyebut nama Qais. Dan aneh, setiap kali ia mendengar burung berkicau di dekat rumahnya, ia mendengar suara Majnun. Ia juga sering melihat bunga-bunga hutan yang dialirkan lewat selokan. Dan ia merasakan seakan-akan bunga- bunga itu adalah surat yang dikirimkan oleh Qais. Ia tidak pernah membicarakan Qais kepada siapapun, bahkan kepada teman terdekatnya sekalipun. Jadi, kalau kecintaan Majnun diumumkan kepada semua orang maka kecintaan Laila disembunyikan dalam-dalam di hatinya. Ia sembunyikan baik- baik. Dan ia tidak ingin siapa pun mendengar jeritan cintanya. Pada suatu hari, Majnun diantarkan oleh kawan- kawannya mendatangi kamar Laila, dengan menyamar sebagai perempuan. Kawan- kawannya menjaga di luar. Dan entah bagaimana Laila pun merasakan bahwa pada hari itu akan ada kunjungan Qais. Karnanya ia segera berhias dengan hiasan yang luar biasa. Laila menunggu di depan pintu. Ketika Majnun masuk, Laila terpukau diam, seakan-akan tak percaya bahwa Majnun betul-betul datang untuknya. Majnun berdiri di pintu untuk beberapa detik, mereguk kenikmatan kerinduan yang sudah sekian lama. la tidak berkata apa-apa. Pada akhimya mereka berduaan, nothing could be heard. Tidak ada yang kedengaran, kecuali suara detak jantung sang kekasih. Mereka saling memandang satu sama lain. Tidak sadar terhadap berlalunya waktu. Pada saat yang sama, salah seorang pembantu di rumah itu memperhatikan ada perempuan dikenal berdiri mematung di depan kamar itu. Segera ia mencurigainya. Singkatnya cerita, pemilik rumah diberitahu, dan akhirnya pertemuan itu dibubarkan. Sekarang ayah Majnun yang kebingungan oleh perilaku anaknya, apalagi sudah digelari Majnun, si Orang Gila. Ia berpikir, semestinya Qais dikawinkan saja agar kegilaannya hilang. Lalu ia datang melamar Laila. Sebagai kepala suku terhormat, ia berkata kepada ayah Laila : “saya fikir ada dua hal yang menentukan kebahagiaan, yaitu anak dan kekayaan. Anak saya sangat mencintai anak anda, dan kekayaan saya akan saya berikan kepadanya. Ayah Laila menjawab : “saya tidak keberatan anak saya menikah dengan Qais. Saya tahu dia anak mulia. Tapi setiap orang tahu bahwa dia anak gila. Ia berpakaian seperti pengemis. Mungkin ia sudah tidak mandi selama berabad-abad. Ia hidup bersama binatang, dan menjauhi orang banyak. Katakan padaku, sahabat, kalau engkau mempunyai seorang gadis sepertiku, maukah engkau mengawinkan dia dengan orang gila seperti anakmu. Alhasil, lamaran itu ditolak. Namun orang tuanya tetap berpikir bagaimana menyembuhkan kegilaan Qais. Lalu ia berfikir, mungkin penyakitnya itu akan sembuh dengan pergi haji. Dibawalah Qais untuk pergi haji. Di Baitullah Majnun' berdoa sambil menangis, "Duhai Yang Paling Terkasih, Raja dari segala raja. Engkaulah yang menurunkan rasa cinta, Saya hanya memohon satu hal saja kepadaMu. Angkatlah cinta saya setinggi-tingginya, sehingga sekiranya saya binasa sekalipun dan kekasih saya tetap abadi." Mendengar doa itu, bapaknya jatuh pingsan. Alih-alih sembuh, malah kegilaan anaknya parah. Setelah naik haji, Majnun tinggal di sebuah reruntuhan rumah. Rambutnya panjang. la hidup dengan binatang. la nyanyikan kecintaannya kepada binatang- binatang itu. Dari kecintaannya kepada Laila ia mencintai seluruh binatang yang ada di rimba raya itu. Sampai tidurpun ia bersama binatang buas. Binatang buaspun bisa dilunakkan oleh hati yang dipenuhi cinta. singkat cerita, Laila dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang kaya raya. Ibn Salam namanya. Tapi Laila mengatakan kepadanya bahwa ia tidak bisa menyentuh karena jiwanya tidak terletak di situ. Sekali lagi Laila tidak pernah menceritakan kecintaannya kepada Qais. Ia sembunyikan dalam hatinya. Dan suaminya tidak mau mengganggunya. la tidak ingin memperolehnya dengan paksa. la berharap bahwa suatu saat Laila akan give in juga. karena berita pernikahan Laila sampai kepada Majnun, ia menangis sepanjang hari. la menyanyikan lagu-lagu yang begitu mengharukan. Sehingga binatang-binatang pun menangis mendengamya. la terus menerus tinggal di reruntuhan rumah itu. Perasaannya kepada Laila tidak pernah berubah. Bahkan cintanya makin bertambah. Kemudian Majnun mengirim surat ucapan selamat kepada Laila. "Semoga kebahagiaan di seluruh alam semesta diberikan kepada anda. Saya tidak meminta apa pun sebagai tanda kecintaanmu. Saya hanya minta satu hal saja. Yaitu, hendaknya engkau selalu mengingat namaku, walaupun engkau sudah memilih yang lain sebagai teman dekatmu. Jangan lupakan bahwa ada seseorang di tempat lain yang sekiranya tubuhnya disobek-sobek sekalipun ia akan tetap menyebut namamu, LAILA..." Sebagai jawaban, Laila mengirimkan satu anting- antingnya sebagai tanda kecintaanya. Dalam suratnya Laila menulis, "Saya tidak pernah ingat satu saat pun dalam hidup saya, yang kosong dari mengingatmu. Saya sudah menyimpan kecintaan saya dalam batin saya begitu lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapa pun. Sementara engkau teriakkan kecintaanmu kepada seluruh dunia. Aku simpan nyala api cintaku jauh di dalam hati, padahal engkau bakar seluruh tempat dengan api cintamu Saya sekarang menghabiskan waktu saya dengan seseorang padahal jiwa saya sepenuhnya diberikan kepada yang lain. Katakan kepadaku, wahai kekasihku, siapakah yang paling gila di antara kita dalam bercinta: kau atau aku?".
 Singkat cerita lagi, Laila menderita kecintaan dan kerinduan yang tidak tertanggungkan. Akhirnya ia menderita batuk yang tid
Hingga sampai kepada bulan sepuluh, hati Qais yang rapuh akhirnya runtuh bergemuruh. Hanya tersisa asa nan menghembus pupus menggenggam setangkai cinta yang tulus tak putus. Di sudut lirik lentik mata Laila, puing-puing jiwa Qais mengerti. Laila tak mungkin lagi menanti puisi-puisi anggun di bisik-bisik padang gurun.

"Semua pria mengaku merengkuh jemari Laila. Namun Laila tak mengaku itu. Kecuali pada Qais Ibnu Al Mulawwah Ibnu Muzahim saja.", Qais lirih bersenandung mengharu biru. Namun kini Qais tak pernah tahu itu.

Laila Binti Mahdi Ibnu Sa'd, putri ayu Bani Amir itu diberi nama. Lail berarti sang malam. Karena sepertinya Tuhan hendak melukis malam pada penyejuk mata Bani Amir.

Rambut Laila yang mengombak panjang menggelung pekat hitam bagai langit malam. Namun parasnya berpendar cahaya serupa purnama yang tersipu malu-malu. Dan semua orang tahu bila Laila mau, binar matanya yang bening sekali mengerling, mampu menggulung dunia menjadi keping-keping.

Celakanya Qais salah satu yang terkena panah-panah asmara yang dilepaskan dari sudut mata itu.

Berawal dari sebuah ruang madrasah. Dunia Qais menjadi nafas nan sesak penuh keluh kesah. Semenjak tatap Qais tak sengaja beradu pandang dengan bola mata Laila, Qais bagai menghirup wangi kuntum-kuntum candu yang berwarna merah jambu. Qais jatuh hati lebam-lebam dicambuk rindu.

Hingga datang suatu hari si Ibnu Salam. Lelaki tanpa salam yang meminang perawan dalam pingitan. Adalah Ibnu Salam si pemetik rembulan satu satunya dan yang pertama. Membuat cinta Qais tidak lagi merah jambu penuh rona. Melainkan semerah darah sebening air mata.

Pedih merintih menahan perih. Qais teriris iris oleh rinai gerimis yang menangis. Namun tetap Qais memilih rindu daripada cemburu. Dan kisah-kisah mulai mengurai tentang kasih-kasih tak sampai. Duhai Qais remaja paling rupawan di seluruh semenanjung jazirah Arabia kini menjadi majnun-penyair gila! Menderas ayat ayat cinta untuk dan hanya untuk Laila.

Rindu Qais adalah rindu yang sederhana. Rindu yang bertiupan di antara semilir desir angin padang pasir. Beterbangan dengan sayap sayap imaji yang berkepak sajak menuju yang dicinta. Perlahan menerbangkan kerudung Laila dengan sengaja. Hingga terpa menyisir lembut rambut sempurna. Membelai helai demi helai tanpa sempat berkata-kata. Hanya sebatas menggoyang alang-alang ilalang. Hingga tangkai-tangkai bunga menjatuhkan kelopak demi kelopak Rosela.

Cinta Qais adalah cinta yang bersahaja. Isyarat maknawi yang mengelana di lembah maya. Mengembara pada aksara yang tak sempat mengeja. Dari satu kabilah ke kabilah yang lain. Dari satu kafilah ke kafilah yang lain. Di senyap bumi yang tandus fatwa cinta Qais menghunus. Di selasar kota-kota lorong-lorongnya Qais tak akan berjalan melainkan meninggalkan kecup mesra pada tiap dinding-dindingnya.

"Aku berjalan pada setapak jalan-jalan dari jalan-jalannya Laila dan menyusuri dinding-dinding purinya yang berbatu. Aku menciumi dinding ini dan dinding itu penuh hasrat rindu. Bukan karena puri itu merenggut hatiku penuh dengan cinta. Melainkan putri ayu yang terpenjara di dalam menara istananya." Qais lirih bersenandung mengharu biru. Namun kini mungkin Laila tak pernah tahu itu.

Qais hanyalah seorang Qais yang remuk dalam peluk samsara Laila. Bukan guru Rumi sang sufi yang menari-nari dimabuk asmara Tuhannya. Jika Rumi tenggelam pada baris baris mastnawi selaksa tafsir. Qais hanya larut dalam tuangan secangkir syair. Karena puisi hanya untuk orang-orang yang jatuh hati. Tidak untuk yang putus cinta. Dan puisi terbaik lahir dari rahim rindu yang bersipayah. Bukan dari jiwa-jiwa yang kalah dan patah.

tak pernah bisadisembuhkan. Laila meninggal dunia. Menjelang akhir hayatnya ia sempat memandang ke pintu tempat Majnun pernah datang ke kamarnya setalah dia menyadari bahwa malaikat maut akan menjemput .laila,untuk terakhir kali nya,meminta ibu nya agar jika ia mati nanti memakaikan baju pengantin berwarna merah darah sebagai lambang syuhada cinta dan cadar dari tanah yang tak akan lepas lagi.selain itu laila meminta dirias secantik mungkin.laila meminta ibunya mewarnai kelopak matanya dengan debu dari bawah telapak kaki kekasih nya,menggunakan air mata kekasih untuk memandikan nya,serta menggunakan kesedihan kekasihnya sebagai wewangiannya.''lalu aku akan menunggu .aku akan menunggu hingga ia datang,karena dia pasti datang.pengelana yang resah,pengembara cinta yang abadi itu akan menemukan jalan menuju makam ku dan disana ia akan bersimpuh dan memohon padaku untuk menunjukkan diri.namun cadar dari tanah itu tidak akan terangkat,maka yang bisa dia lakukan hanyalah menangis tersedu-sedu.tenangkan dia,ibu,karena dia adalah sahabat sejatiku.perlakukan dia dengan baik dan berikan dia kasih sayang,seakan-akan dia adalah anak mu sendiri.. Dan... ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Diam-diam ia menggumamkan kata MAJNUN... Berita tentang kematian Laila menyebar, dan sampai juga ke telinga Majnun. Mendengar berita itu, Majnun pun jatuh pingsan. Beberapa hari ia tak sadarkan diri. Saat sadar, dengan tertatih-tatih ia datang ke kuburan Laila. Di situ ia menangis berhari-hari sampai akhimya Tuhan mengambil nyawanya. Tubuh Majnun tergeletak di situ selama setahun. Tidak ada orang yang tahu. Sampai ketika diadakan haul Laila, orang-orang datang ke kuburan, dan menemukan mayat Majnun di atas pusara Laila. Kemudian mayat Majnun dikuburkan bersama dalam satu kubur, di tempat yang sama. Di tempat yang abadi itulah keduanya bertemu. Sebagai akhir cerita, adaseorang sufi bermimpi melihat Majnun berada di samping Tuhan, dan Tuhan membelai-belai kepala Maj­ nun dengan penuh kecintaan dan kasih sayang. Majnun disuruh duduk di samping Tuhan, ke­ mudian Tuhan berkata kepada Majnun, "Tidakkah engkau malu memanggil Aku dengan nama Laila setelah kauteguk anggur cinta- Ku?" Sufi itu terbangun dalam keadaan melihat posisi Majnun. Lalu dimana posisi Laila? Tuhan kemudian mengilhamkan ke dalam hatinya, bahwa posisi Laila lebih tinggi lagi, karena Laila menyembunyikan cintanya dalam hatinya.Kaum Sufi menganggap Majnun dan Laila adalah kisah kecintaan seorang pecinta dengan Tuhannya, kekasihnya Laila adalah Tuhan, yang tersembunyi. Sementara Majnun adalah pecinta. Belajar Cinta dari Majnun Dalam tingkah laku Majnun itulah cinta didefinisikan dengan sangat konkret. Misalnya Majnun mencintai apa saja yang datang dari kekasihnya. Angin, bahkan anjing pun ia cintai, karena anjing itu berasal dari tempat kekasihnya. Dan tidak ada kenik­ matan yang paling besar kecuali menyebut-nyebut nama kekasihnya. Bagi Majnun, tidak ada yang paling nikmat kecuali menyebut nama Laila. Orang yang sudah mencintai Tuhan, seperti majnun, mungkin akan dianggap gila oleh orang-orang. Salah satu dalil mengapa kita boleh kuburan Rasulullah bisa kita jelaskan dari syair Majnun. Majnun membuat puisi-puisi kerinduannya kepada Laila. Dalam salah satu puisinya Majnun berkata: “Kucium dinding itu,bukan dinding itu tetapi karena kecintaanku kepada dia yang berada di balik dinding itu. " Kalau kita mencintai seseorang, maka seperti Majnun, kita akan menyukai apa saja yang dari orang itu. Seperti pembicaraannya, atau pembicaraannya. Karena itu, salah satu cara untuk untuk memperkuat kecintaan kepada Allah ialah kita harus banyak membaca dan mempelajari AIQuran. Itu syarat pertama. Kita tidak bisa mencintai dia kecuali lewat sesuatu yang datang dariNya.Dan Al-Quran adalah kalam Allah yang datang dari- Nya. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: "Inna hddza alqur'an ma'dubatbatullah fa ta'allamuu ma'dubatah”. Sesungguhnya AI-Quran ini adalah hidangan (yang diberikan oleh) Allah. Maka pelajarilah hidangan itu semampu kamu. AI-ma'dubah adalah makanan yang dihidangkan oleh seseorang sebagai penghormatan kepada tamunya: makanan khusus yang diberikan kepada seseorang yang kita sukai. AI-Quran adalah ma'dubatullah. Para pecinta yang ingin menikmati kerinduannya kepada Allah SWT, akan membaca Al-Quran, atau mereka menyuruh orang lain untuk membacakannya. Rasulullah SAW juga sering menyuruh orang untuk membaca AI-Quran untuknya. Seorang sahabat berkata: "Ya Rasulullah, kausuruh aku membaca Al-Quran padahal ia diturunkan kepadamu." Nabi bersabda: "Aku ingin mendengar­ kannya dari yang lain." Ketika sahabat itu membacakan AlQuran, Rasulullah SAW menangis tensak-isak Sahabat itu menghentikan bacaannya. karena mendengar Rasulullah menangis. Tapi Rasulullah menyuruhnya meneruskan bacaan Itulah tangisan kerinduan. Ada belasan munajat yang disampaikan oleh imam Ali Zainal Abidin yang isinya, kalau anda perhatikan, merupakan bisikan- bisikan mesra dari seorang pecinta kepada Kekasihnya. Saya akan bacakan salah satu munajat penempuh thariqat (munajat al-muridin). Saya meng­ gambarkannya sebagai contoh bahwa doa ini adalah berupa munajat, bisikan. "Aku memohon kepada-Mu, jadikan daku yang paling banyak mendapat karunia-Mu; yang paling tinggi kedudukannya di sisi-Mu; yang paling besar bagiannya dari cinta-Mu; yang paling utama memperoleh ma'rifat-Mu; untuk-Mu saja tercurah keinginan-Ku;kepada- Mu jua terpusat hasratku; hanya Engkaulah tempat kedambaanku, tidak ada yang lain;karena engkau sajalah aku tegak terjaga, tidak karena yang lain;Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku; pertemuan dengan-Mu kecintaan diri-Ku; kepada-Mu kedambaanku, kepada cinta-Mu tujuanku; pada kasih-Mu gelora cinta-Ku; ridha- Mu tujuanku;melihat-Mu keperluanku; mendampingi-Mu keinginanku; mendekati-Mu puncak permohonanku;dalam menyeru-Mu ada damai dan tentramku; di sisi-Mu penawar deritaku, penyembuh lukaku,penyejuk dukaku, pengobat pedihku. " Doa-doa seperti ini disebut munajat, whispers. Tapi itu bukan berarti kita tidak boleh berdzikir keras. Ada saat-saat ketika ketika harus berdzikir dengan keras, tapi bukan ketika kita mengungkapkan cinta kepada Allah. Misalnya dalam peperangan, kita dianjurkan untuk berdzikir dengan keras. Karena Tuhan adalah Zat Yang Mahasuci, dan hanya bisa didekati oleh orang-orang suci, maka ketika seseorang hendak kembali kepada Dia, maka ia harus berada dalam keadaan suci. Karena itu, kata "kembali" dan "bersuci" dalam AI-Quran didekatkan. "lnnallah yuhibb al- tawwaabiin wa yuhibb al- mutathahhirin." Tuhan mencintai orang yang terus menerus kembali clan mencintai orang- orang yang membersihkan diri. Sebab itu pula, salah satu riyadhah untuk memperoleh kecintaan Allah ialah memelihara wudhu kita. Dalam sebuah hadis qudsi Allah SWT berfirman, "Siapa yang hadats dan tidak berwudhu, ia sudah meninggalkan-Ku. Siapa yang berwudhu tetapi ia tidak sholat dua rakaat ia juga sudah melalaikan-Ku; siapa yang salat dua rakaat tapi tidak berdoaia juga telah mengabaikan-Ku; Siapa yang hadast berwudhu, dan salat dua rakaat kemudian berdoa kepada-Ku, kemudian aku tidak memperkenankan doanya, baik urusan agama maupun dunia, berarti Aku sudah meninggalkan dan. Dan aku bukanlah Tuhan yang suka meninggalkan kekasihnya." Saya membaca tulisan Hassan Zadeh Amuli: "Ketahuilah wahai pembaca tersayang Sesungguhnya wudhu adalah cahaya. Selalu berada dalam keadaan suci adalah alat agar engkau naik menuju alam yang suci, inilah aturan yang agung , yang diajarkan oleh agama kita. Kemudian jika engkau selesai salat, sujud dan bacalah doa pada waktu sujud Allahumma urzuqnii halaawah al dzikr wa liqaa 'ik wa al-hudhuur’indak. Ya Allah anugrahkanlah kepadaku manisnya menyebut namaMu, indahnya pertemuan denganMu dan hadir dihadapan-Mu." Berdasarkan QS Al-A’raf 7:31 disebutkan bahwa Allah tidak menyukai orang yang berlebih- lebihan dalam makan dan minum Karena itu, kalau kita ingin memperoleh cinta Tuhan, dan belajar mencintai-Nya kita harus menghindari hal-hal yang tidak disukai oleh kekasihnya, dan akan menyukai apa saja yang yang disukai olehnya. Dalam kisah Laila Majnun yang lengkap diceritakan bahwa Laila mempunyai sekawanan kambing. Kambing-kambing itu dibiarkan merumput di lapangan. Majnun memeluk kambing-kambing itu dengan pelukan mesra Karena kambing itu kepunyaan Laila. Sampai Majnun iri hati kepada kambing tersebut karena mereka bisa berjumpa dengan Laila sementara dirinya tidak. Hingga akhirnya, entah mendapatkan ilham dari mana, kemudian Majnun menyamar jadi kambing. Ia mau menjadi kambing sekalipun, asal bisa menatap wajah Laila. la mau meletakkan dirinya dalam keadaan hina sekalipun, asal ia bisa memandang wajah Laila. Imam Khomeini berkata : “Ibadah yang sebenarnya tidak akan bisa dicapai kecuali dengan menyadari izzah rubuubiyyah.” Maksudnya ibadah seperti tidak bisa diperoleh sebelum kita merasakan kemuliaan Tuhan dan kehinaan diri kita. Dalam QS Al A’raf itu disebutkan, "Makan dan minumlah. Dan jangan berlebih-lebihan.. Sesungguhnya Allah tidak orang-orang yang berlebih-lebihan." Sesungguhnya Allah tidak menyukai yang berlebih-lebihan.” Oleh karena itu, ketahuilah, wahai kekasih, usahkan agar ngkau mengurangi makan dan minum, jika engkau mau belajar mencintai Allah SWT. Jika seseorang banyak makan dan minum, hatinya akan keras, matanya akan jumud (beku). Mata yang jumud artinya mata yang sukar meneteskan air mata. Orang yang kenikmatannya hanya makan dan minum saja, ruhnya di alam ruhani yang berbentuk babi (khinzir). Jadi, puasa adalah latihan untuk mencintai Allah SWT. Rasulullah pernah berkata kepada Aisyah, "Hai Aisyah rajin-rajinlah mengetuk pintu surga!" Bagaimana kami harus mengetuk pintu surga'?", tanya Aisyah. "Dengan lapar dan dahaga," jawab Rasulullah. Kita berharap agar pintu surga dibukakan untuk Kita. Kita adalah Majnun yang mengetuk pintu rumah Laila dengan lapar dan dahaga. Sayang sekali, kecintaan Tuhan itu tersembunyi dari kita. Kita tidak mengetahui kecintaan Tuhan kepada kita. Jadi, kita tidak tahu apakah pintu itu sudah dibukakan untuk kita atau belum. Tapi Al Quran memberitahukan kepada kita, bahwa terbukanya pintu. Yaitu, "Hai jiwa yang tentram, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai." Yakni dalam keadaan cinta dan dicintai. Ridha adalah salah satu bagian dari cinta. Dengan demikian, salah satu tanda terbukanya pintu surga untuk kita adalah jiwa yang tenteram. Jika jiwa kita sudah merasa tenteram, itu pertanda bahwa pintu syurga terbuka.* (Ditranskrip dari uraian Ust. Jalal dalam Paket Tasawuf Cinta yang diselenggarakan oleh Yayasan Muthahhari 11-16 Ramadhan 1417/25 Januari 1997)

No comments:

Post a Comment