Akhir menjadi awal
Tuuuuutttttt.....tuuuuttttttttt......suara terompet bahwa kapal akan segera berangkat dari pelabuhan belawan menuju pulam batam. Jam menunjukkan pukul setengah empat sore aku hanya bisa terduduk lemas di atas dek kapal sambil menikmati hembusan angin laut yang begitu kuat sambil menatap luas nya lautan.
Hatiku pun ikut bergumam beginilah kehidupan dunia ibarat lautan yang luas kalo kita lihat dari jauh seolah langit menjadi batas nya laut tapi seiring kita berlayar batasan laut tersebut yang kita lihat dari jauh tadi pun tak kunjung kita temukan. Kulihat di sekeliling ku orang bersenang ria mereka asyik menikmati suana gembira dikapal km kelud itu yang muatan nya mampu menampung 5000 orang, tapi aku menikmati suasana itu dengan segalah kesedihan yang mencekam didalam dadaku, aku sudah tidak punya apa apa yang ku punya hanyalah sebuah handphone genggam dan pakaian dibadan, perut ku mulai terasa lapar karna dari pagi aku belum makan, kulihat kedalam saku kujumpai sisa uang hanya tiga ribu rupiah.
Akhirnya aku meng urungkan niat ku untuk mengganjal perut laparku. Disaat itu pikiran ku melayang ke kehidupan ku yang dulu aku punya segalanya tapi sekarang apa ....??? Apalagi yang aku miliki ...??? Semuanya sirna, harta bendaku lenyap nama baik ku terbenam relasi dan kepercayaan pergi entah kemana orang orang yang dulunya selalu ada didekatku kini mereka menjauh dan keluargapun aku tak tau kabar beritanya bahkan orang yang paling kusayang yang jadi penyemangat hidupku pun ikut menjadi pengkianat dalam hidupku dengan dia meninggalkan ku dan pergi dengan lelaki lain. Kini jiwaku sangat lemah karna sudah tidak ada lagi sandaran yang membuatku bisa berdiri jiwaku terus bergejolak terasa sudah tidak ada gunanya aku hidup dan tak terasa air mata terus mengalir mebasahi baju ku tanpa sanggup untuk ku bendung aku berteriak sekuat tenaga di tengah tengah bergejolak nya jiwa ku aku teringat satu hal untuk apa aku menangisi semua ini ...?? Untuk apa aku bersandar kepada semua yang kutangisi karna semua itu baharu, aku tak boleh bersandar kepada yang baharu aku harus bersandar kepada yang kekal, mereka itu tidak kekal jadi memang sepatut nya semua itu hilang supaya aku berdiri dengan yang maha kekal yaitu allah.
Aku menyadari satu hal lagi dulu disaat aku punya segalanya juga anugerah tuhan bukan karena hebat nya aku dan aku sangat menyadari itu dan kini di saat hal terburuk terjadi dalam hidupku ini juga dari tuhan karena sehebat apapun diriku ini, aku tak bisa untuk membendung semua ini lalu aku menyadari bahwa tuhan yang memberikan baik dan buruk itu satu tidak terpisah antara tuhan yang memberikan baik kepadaku dan tuhan yang memberikan buruk kepadaku. Nah disaat aku tidak ikhlas menerima kenyataan ini berarti aku tidak melihat bahwa sebenarnya allah lah yang memberikan baik dan buruk itu, tidak ada tuhan yang lain. Mungkin ini lah cara tuhan mengajarku bahwa semua hubungan kita dengan yang nama nya makhluk itu tidak ada yang kekal jadi akupun menyadari itu semua setelah aku belajar untuk tidak melihat kepada laut dan tidak melihat kepada ombak dan tidak melihat kepada buih tapi aku hanya melihat kepada air, karna semua itu baik laut, ombak, buih itu semua adalah air.
Jadi didalam kapal ini tuhan memberitahukan kepadaku untuk tidak melihat kepada senang kepada sedih kepada harta benda kepada relasi kepada keluarga kepada kaya kepada miskin kepada orang yang paling kusayang sekalipun karena didalam semua itu aku menyaksikan cahaya keberadaan dan kebesaran allah.
No comments:
Post a Comment